Sultra

29.012 Masyarakat Sultra Terdeteksi Gunakan Narkoba

PUBLIKSATU.COM, KENDARI – Berdasarkan data hasil survei, saat ini sebanyak 29.012 warga Sultra terdeteksi telah menggunakan Narkoba. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra, Brigjend Pol Bambang Priyambada pada rapat koordinasi program pemberdayaan masyarakat anti Narkoba di instansi pemerintah yang digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Rabu (6/2). Kegiatan tersebut yang dihadiri langsung Gubernur Sultra, Ali Mazi.

Bahkan kata Bambang, dari total 1100 narapidana yang ada di lembaga pemasyarakatan (Lapas) di wilayah Sultra, 490 diantaranya merupakan narapidana kasus penyalahgunaan Narkoba.

“Berdasarkan survei, untuk wilayah di Sulawesi Tenggara, terdapat sekitar 1,58 persen atau 29.012 orang yang telah terdeteksi mengunakan Narkoba. Serta dari 1100 total narapidana yang ada di Sulawesi Tenggara, terdapat 490 tahanan khusus mengenai penyalahgunaan dalam pemakaian Narkoba,” jelas Bambang.

Sementara itu, Gubernur Sultra, Ali Mazi meminta BNNP Sultra terus berupaya memberantas kejahatan penyalahgunaan dan peredaran Narkotika.

Dikatakan, penanganan kejahatan penyalahgunaan Narkotika harus secara komprehensif, menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Langkah ini sebagai upaya penyelamatkan generasi muda dari kejahatan penyalahgunaan barang haram tersebut.

Menurut Ali Mazi, penyalahgunaan Narkotika merupakan kejahatan yang luar biasa, terorganisir dan bersifat lintas negara, dimana saat ini penegedarannya telah berkembang dengan modus baru dari waktu ke waktu.

“Kejahatan untuk Narkotika ini tidak hanya bermotif bisnis ilegal demi keuntungan ekonomi semata, namun juga berkembang dengan motif membiayai kejahatan terorisme serta kejahatan lainnya,” kata Ali Mazi.

Hal ini, kata Ali Mazi, terlihat banyaknya fakta di lapangan, terkait dengan penyalahgunaan dan peredaran Narkotika di masyarakat yang menunjukkan kecendrungan adanya peningkatan dengan korban yang sangat meluas.

“Perluasan mewabahnya penyalahgunaan Narkotika terjadi terutama di kalangan anak-anak, oknum aparatur sipil negara (ASN), anggota kepolisian, kepala daerah, generasi muda hingga di lingkungan pesantren. Padahal dengan mewabahnya penyalahgunaan Narkotika ini bisa berdampak pada rusaknya saraf dan otak si pemakai. Oleh karena itu mari bersama-sama mencari langkah kongkrit untuk mencegahnya,” tutup Ali Mazi. (m1)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker