Sultra

ADJASI Gelar Seminar Mewujudkan Peran Nyata Antropologi

Dalam Pembangunan Masyarakat Multi Kultural

PUBLIKSATU.COM, KENDARI – Asosiasi Departemen/Jurusan Antropologi seluruh Indonesia (ADJASI) menggelar seminar yang bertajuk “Mewujudkan Peran Nyata Antropoligi Dalam Pembangunan Masyarakat Multi Kultural, yang digelar selama dua hari disalah satu hotel di Kota Kendari, Kamis (17/10).

Prof AA Anom Kumbara MA mengatakan, hari ini ada dua agenda yang pertama seminar nasional dengan tema membangun multi kultural lisme dan peran Antropologi di dalam pembangunan. Kedua, ada pertemuan asosiasi Departemen Jurusan Antropologi se-Indonesia (ADJASI).

“Untuk seminar ini menampilkan sesuatu terutama lebih mendorong agar para Antropologi lebih progresif mengambil peran dan bagian di dalam menyangga kebudayaan serta mengembangkan kebudayaan nasional yang sebelumnya masih berkiprah pada bagian studi mengenai pemahaman mengenai kebudayaan,” ulasnya.

Maka adanya seminar dan pertemuan ini lanjutnya, Antropologi lebih berperan dan mengambil bagian dalam merawat NKRI. Karena di dalam Antropologi sendiri, memang tidak menghadapi era deropsi, revolusi poin 40 dimana masyarakat dunia berkecendrungan homogen.

“Akan tetapi untuk dipihak lain sebenarnya ada proses-proses hidrogenisasi, partikulasi yang justru menjembatani persoalan ini menjadi tanggungjawab Antropologi. Karena dampak dari globalisasi derupsi itu adalah terjadi homogenisasi, yang mana dipihak lain masyarakat juga melawan dan tidak suka dengan itu. Sehingga melahirkan perlawanan yang seharusnya tidak diartikan secara radikal sebagaimana yang berkembang di dalam yang berbasis,” papar Anom Kumbara.

Sambungnya, di dalam konteks ADJASI bahwa pihaknya ingin kembali mengevaluasi kurikulum, proses belajar, dan apa langkah-langkah yang harus dilakukan kedepannya. Maka Antropologi lebih tampil nyata di dalam segala proses pembangunan juga membangun kurikulum yang relevan dengan tuntutan zaman.

“Justru disini Antropologi tampil sebagai panglima penyangga tentang proses penjagaan situs budaya. Karena Antropologi dari sejak kelahirannya tersebut, pasca Kolonial harus tampil dalam melawan program yang bersifat proyek yang mengabaikan situs dan potensi lokal,” timpalnya.

Menurut Anom, di dalam ADJASI juga akan dibahas bagaimana peran strategis yang harus diambil oleh Antropologi baik dalam rangka merawat NKRI, kemudian mengembangkan Multi Kulturalisme maupun melestarikan lokal jenius termaksud situs budaya yang dimiliki.

“Apalagi di dalam ADJASI mengenai pengerjaan projek agar situs budaya tidak tergerus, olehnya itu akan selalu ada negosiasi dan prenpentif terhadap projek situs budaya. Tujuannya agar saat pengerjaan projek sampai dengan proses berlanjut tidak menyentuh atau menghilangkan kearifan lokal, warisan tradisi adiluwung sehingga warisan turun temurun tersebut tidak cepat punah hanya diakibatkan oleh pemikiran yang bersifat pragmatis,” pungkasnya. (m1)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker