Busel

Alasan Pemilu, Pemkab Busel Tolak Mahasiswa KKL

PUBLIKSATU.COM, BUTON SELATAN – Sejumlah kampus ternama di Kota Baubau yang akan melaksanakan kuliah kerja lapangan (KKL), kuliah kerja amaliah (KKA), dan kuliah kerja nyata (KKN) di Buton Selatan (Busel) mendapat penolakan dari pemerintah setempat.

Penolakan mahasiswa yang melaksanakan tridharma perguruan tinggi di Busel menuai pro kontra dari berbagai pihak. Alasan pemerintah karena Busel masih menghadapi Pemilu 2019.

Tiga perguruan tinggi yang mendapat penolakan dari Pemkab Busel adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), Universitas Muhammadiyah Buton (UMB), dan Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau.

Untuk peserta KKL STAI sudah diterima masing-masing camat Sampolawa dan Lapandewa. Namun terpaksa pihak panitia universitas menarik secara mendadak peserta KKL dari dua kecamatan tersebut karena ditolak Pemkab Busel.

Sementara UMB dan Unidayan sesuai kalender akademik juga akan melaksanakan praktek lapangan itu di Busel. Untuk UMB akan melakukan KKA. Sedangkan Unidayan KKN di Busel.

Infomasi yang dihimpun, untuk Unidayan sudah bersurat secara resmi ke Pemkab Busel. Sementara UM-Buton belum bersurat secara resmi. Tapi ada rencana juga akan melakukan KKA di daerah yang dipimpin Plt Bupati La Ode Arusani itu.

Menurut Sekda Busel Drs La Siambo untuk peserta KKL mahasiswa STAI sudah diterima di masing-masing di dua kecamatan Lapandewa dan Sampolawa. Namun karena ada perintah pimpinan dalam hal ini Plt Bupati untuk menunda penerimaan peserta KKL karena masih menghadapi momen politik. Setelah Pemilu baru bisa menerima peserta KKL.

“Sebenarnya bukan ditolak, tapi kami masih menunda menerima peserta KKL. Nanti setelah Pemilu dulu. Ini sesuai perintah pimpinan daerah,” kata Siambo.

“Surat yang sudah masuk di Pemda baru Unidayan dan STAI. Kalau UMB itu belum masuk. Khusus Unidayan sudah ada titik terang bahwa mereka akan masuk selesai Pemilu, tepatnya bulan lima,” tambahnya.

Ia membenarkan, kejadian di Kecamatan Sampolawa dan Lapandewa juga terjadi di Kecamatan Batuatas. Di Batuatas, 800 orang mahasiswa terpaksa dipulangkan. Padahal, pemerintah kecamatan setempat sudah menerima resmi para mahasiswa tersebut.

Sekretaris panitia KKL STAI, Dariadi SPd,I menyesalkan penolakan yang dilakukan Pemkab Busel. Apalagi mengait-ngaitkan KKL dengan Pemilu.

Menurutnya alasan Pemkab Busel masih disibukan dengan politik ini tidak rasional. Karena kehadiran mahasiswa di Busel tidak berkaitan dengan politik tapi menjalankan tridharma perguruan tinggi. Yakni mengabdi kepada masyarakat. (aga)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker