Politik

Bukan Hasil Aklamasi, Kemenangan Zulhas Tak Perlu Bawa Gerbong Yang Kalah

PUBLIKSATU.COM – Belum ada alasan kuat yang mendorong Ketua Umum PAN periode 2020-2025, Zulkifli Hasan menggandeng gerbong yang kalah dalam Kongres V di Kendari kemarin.

Menurut pengamat politik Igor Dirgantara, opsi rekonsiliasi dengan menggandeng pihak-pihak yang kalah kerap terjadi saat ketua umum dihasilkan dengan mekanisme aklamasi.

“Dengan aklamasi, rekonsiliasi dengan mengakomodasi lawan menjadi kawan itu lumrah. Tetapi saat aklamasi gagal dilakukan lalu terjadi voting, maka konsekuensi ‘the winner take all’ juga layak menjadi pertimbangan tanpa harus melibatkan kompetitor yang kalah dalam kepengurusan baru,” kata Igor kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (14/2).

Sejatinya, kepengurusan baru PAN adalah hak prerogratif Zulhas sebagai Ketum terpilih yang otomatis berhak menjadi formatur tunggal untuk membentuk struktur pengurus baru PAN. Namun komposisi kepengurusan PAN ke depan juga harus dipertimbangkan secara matang.

Berkaca pada pengalaman Kongres IV 2015 silam, Zulhas yang menang dengan selisih 6 suara dari petahana, Hatta Rajasa juga tak memberi ruang kepada yang kalah.

“Dulu menang tipis saja yang kalah tak dikasih jabatan di kepengurusan. Terlebih sekarang selisih kemenangan Zulhas besar, sampai 106 suara,” tambahnya.

Alih-alih memberi ruang kepada penantang, yakni Mulfachri Harahap dan pendukungnya, Wakil Ketua MPR RI itu disarankan memberikan porsi kepada Asman Abnur yang mundur sebelum pencalonan.

“Idealnya Zulhas lebih mengutamakan gerbong Asman Abnur (Hatta Rajasa) yang mundur dari pencalonannya,” tandasnya. (rmol)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker