Hukum

Demi Bayar Uang Makan dan Kos, Karmiyati Nekat Edarkan Sabu

PUBLIKSATU.COM – Dua orang tersangka pengedar sabu dibekuk jajaran Polsek Genuk, Polrestabes Semarang. Keduanya adalah Muhammad Irsad (34) dan Karmiyati (41) yang mengaku rela berjualan barang haram itu demi bisa membeli makan serta membayar uang indekos.

Muhammad Irsad diketahui merupakan warga Dukuhan, Kalisari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Sementara, Karmiyati, merupakan warga Jalan Borobudur, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Kapolsek Genuk, Kompoo Zaenul Arifin mengatakan, keduanya diringkus setelah kedapatan mengedarkan sabu-sabu di wilayah Kota Semarang.

Kapolsek menjelaskan, mulanya Irsad yang ditangkap. Tepatnya di Jalan Woltermongisidi, Genuk pada Sabtu (5/1) silam. Kala itu, pelaku tengah dalam perjalanan selepas mengambil paketan sabu di Jalan Madukoro, Semarang Barat.

“Kami kemudian menangkap tersangka dan kemudian melakukan interogasi serta pengembangan. Dari pemeriksaan itu kami mendapat identitas pengedar sabu-sabu yang menjual kepada Irsad,” katanya.

Pelaku, lanjut Zaenul memperoleh paketan sabu dari seseorang yang tak lain adalah Karmiyati. Sehari setelahnya, polisi pun langsung mengamankan yang bersangkutan di tempat kosnya di Jalan Sri Kuncoro, Kalibanteng, Semarang Barat.

“Kami menangkap tersangka yang satunya (Karmiyati) di tempat kosnya. Saat itu kami juga menemukan sabu-sabu yang sudah dipaketi kecil-kecil yang totalnya sekitar 50,39 gram,” katanya.

Melalui keterangan diperoleh, Karmiyati, mengedarkan paket sabu dengan cara disimpan di dalam bungkus rokok. Setiap kali transaksi, Ia selalu menaruhnya di bawah pohon di pinggir jalan.

Sementara dari pengakuan Karmiyati, ia menjadi pengedar sabu-sabu sejak empat bulan lalu. Hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. “Hasil dari ini juga saya pakai sendiri buat makan dan bayar sewa indekos,” katanya.

Dalam pengedarannya, ia mengaku dikendalikan oleh seorang berinisial BG, penghuni Lapas Kedungpane. Lewat komunikasi via ponsel, keduanya menentukan titik persebaran atau pengambilan barang.

“Saya cuma ngambil kemudian membagi ke dalam paket kecil dan mengantarkannya sesuai dengan perintah pak BG,” kata perempuan yang mengaku berprofesi sebagai buruh ini.

Dikatakannya, dia mengenal BG sejak beberapa tahun lalu. Tepatnya, sebelum BG mendekam di lapas akibat kasus peredaran narkoba. Katanya, mereka sempat tinggal satu kos di daerah Kalibanteng, Semarang Barat.

“Saat itu dia jadi tetangga saya dan mulai kenal. Saya di indekos tinggal sendiri, nggak punya keluarga, nggak punya suami, nggak punya anak,” katanya.

Hubungan pertemanan itu kemudian terjalin sampai akhirnya harus terpisah karena BG diringkus oleh petugas kepolisian beberapa waktu lalu. Akan tetapi sejak empat bulan silam, keduanya kembali berhubungan untuk menjalankan bisnis haram ini.

Kasmiyati mengaku diupahi Rp 2 juta setiap kali mengambil paketan. Uang tersebut dibayarkan melalui transfer bank setelah ia berhasil menyebar sabu ke sejumlah titik sesuai permintaan BG. “Selama empat bulan ini saya baru ngambil dua kali,” imbuhnya.

Kini, baik Karmiyati maupun Irsad harus mendekam di Mapolsek Genuk. Mereka dijerat Pasal 114 ayat 1 dan Pasal 112 ayat 1 UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika. Ancamannya, hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker