Hukum

Dikonfrontir, Wahyu Setiawan Akui Pernah Berkomunikasi Dengan Advokat DPP PDIP

PUBLIKSATU.COM – Tersangka dugaan suap yang juga mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan mengaku pernah berkomunikasi dengan mantan caleg PDIP Jawa Timur Dapil IV, Donny Tri Istiqomah.

Pernyataan tersebut disampaikan Wahyu usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan. Wahyu pun mengaku di konfrontir dengan Donny yang hari ini memenuhi panggilan penyidik KPK sebagai saksi.

“Iya saya di konfrontir dengan saudara Donny,” kata Wahyu Setiawan usai diperiksa penyidik KPK kepada wartawan, Rabu (12/2).

Dalam pemeriksaan tadi, kata Wahyu, masih sebutar proses dan mekanisme pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI 2019-2024 dan kronologi terjadinya suap tersebut.

“Ya tema-tema (materi pemeriksaan) komunikasi lah. Biasa masih ajeg seperti yang kemarin-kemarin,” ungkapnya.

Selain itu, Wahyu pun mengaku pernah berkomunikasi dengan Donny Tri Istiqomah yang juga merupakan advokat di DPP PDIP sebelum terjadi OTT oleh KPK.

“Pernah, pernah (berkomunikasi dengan Donny,” pungkasnya saat masuk ke dalam mobil tahanan.

Diketahui, penyidik KPK hari ini mengagendakan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dalam kasus ini. Saksi yang diperiksa ialah Donny Tri Istiqomah yang pernah ditangkap bersama tersangka Saeful Bahri namun kembali dilepaskan.

Selain Donny ialah Nurhasan yang disebut sebagai petugas keamanan Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat.

“Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka WS (Wahyu Setiawan),” kata Pelaksana Tugas (Plt) Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri, Rabu (12/1).

Selain itu, KPK juga memanggil Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat, RM. Thamrin Payapo. Thamrin akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Harun Masiku.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan empat orang tersangka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, politisi PDIP Harun Masiku, mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan Saeful Bahri.

Keempatnya ditetapkan tersangka usai KPK melakukan OTT kepada Wahyu pada Rabu (8/1) kemarin. Di mana, Wahyu dan Agustiani disebut sebagai pihak penerima suap, sedangkan Harun dan Saeful disebut sebagai pihak pemberi suap.

Pemberian suap tersebut berkaitan dengan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI 2019-2024. Dimana, DPP PDIP berusaha agar Harun Masiku menduduki jabatan di DPR RI Dapil I Sumatera Selatan menggantikan posisi Riezky Aprilia yang tepat ditetapkan oleh KPU menggantikan posisi Nazaruddin Kiemas yang meninggal dunia.

Wahyu Setiawan disebut telah menerima uang suap senilai Rp 200 juta dari Agustiani yang merupakan orang dekat Wahyu. Agustiani pun mendapatkan uang tersebut dari salah satu sumber dana yang masih didalami oleh penyidik KPK pada pertengahan Desember 2019.

Selanjutnya pada akhir Desember 2019, Harun memberikan uang kepada Saeful senilai Rp 850 juta melalui salah seorang staf di DPP PDIP. Saeful kemudian memberikan uang Rp 150 juta kepada Doni. Sisanya, Rp 700 juta yang masih di Saeful dibagi menjadi Rp 450 juta kepada Agustiani dan Rp 250 juta untuk operasional. Uang Rp 450 juta yang diterima Agustiani selanjutnya akan diberikan kepada Wahyu sebesar Rp 400 juta. Namun, uang tersebut masih disimpan Agustiani saat terjadinya penangkapan oleh penyelidik KPK. (rmol)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker