Hukum

Dua WNA Bobol ATM Divonis Setahun dan Denda Rp 50 Juta

PUBLIKSATU.COM, SEMARAPURA – Dua orang warga negara asing (WNA) yang duduk sebagai tersangka dalam kasus pembobolan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dengan metode skimming diganjar dengan hukuman selama satu tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Semarapura.

Selain itu, dua terdakwa masing-masing Ivan Hristov Stanchev (43), asal Bulgaria dan Plamen Nikolovpandov (45), asal Australia, juga dijatuhi pidana denda sebesar Rp 50 juta. Itupun dengan ketentuan bila denda tidak dibayarkan maka diganti dengan kurungan selama tiga bulan.

Vonis tersebut ditetapkan Hakim Ni Nyoman Melianawati selaku pimpinan majelis hakim dalam persidangan kedua terdakwa yang berlangsung kemarin (5/12). Dalam amar putusannya, hakim menilai kedua terdakwa terbukti mencuri informasi elektronik dengan cara mengakses sistem komputer secara melawan hukum.

Sehingga perbuatan mereka dinilai terbukti memenuhi unsur pidana Pasal 30 ayat (2) juncto Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 ayat 1 Ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP juncto Pasal 53 ayat (1) KUHP.

Meski demikian, putusan tersebut sejatinya lebih ringan dari tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Dewa Gede Agung Mahendra Gautama. Karena tadinya, kedua terdakwa dituntut dengan hukuman selama lima tahun dan denda sebesar Rp 100 juta subsider lima bulan kurungan.

Menanggapi putusan tersebut, pihak penuntut umum menyatakan pikir-pikir. Dan sikap yang sama juga disampaikan pihak terdakwa yang diwakili kuasa hukumnya, Yulius Benyamin Seran. “Kalau kami inginnya terdakwa bebas,” ujarnya.

Dia menegaskan apa yang didakwakan kepada kedua kliennya tidak terbukti selama persidangan. Karena pihaknya menilai penuntut umum tidak mampu menunjukkan bukti-bukti berupa data elektronik nasabah BRI yang dicuri dari ATM di Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida.

Dalam persidangan juga terungkap bahwa kliennya hanya disuruh orang bernama Peter untuk memasang CCTV pada ATM. “Harusnya klien kami dibebaskan,” jelasnya.

Seperti diketahui, kedua terdakwa sebelumnya ditangkap di Lembongan, Kecamatan Nusa Penida pada 9 Juli 2018 lalu. Penangkapannya berawal dari kecurigaan warga lantaran keduanya bolak-balik ke sebuah ATM yang ada di sana. Tingkah aneh kedua terdakwa itu kemudian dilaporkan ke pihak berwajib. Mereka lantas dicurigai memasang kamera untuk merekam aktivitas orang yang melakukan transaksi di ATM.

(bx/wan/yes/JPR)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker