Buton

Festival Budaya Tua Buton Mendunia, 68 Kapal Yacht Bakal Berlabuh di Teluk Pasarwajo

PUBLIKSATU.COM, BUTON – Festival budaya tua Buton tercatat telah enam kali digelar, tahun ini merupakan event ketujuh. Popularitasnya tak diragukan lagi. Bahkan pesonanya perlahan-lahan mulai dikenal di kancah Internasional.

Bagi sebagian orang mungkin festival ini tak berarti. Namun tidak dengan sebagian turis asing. Mereka melihat ini sebagai event yang luar biasa. Mereka lantas berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung pagelaran tahunan yang mempertontonkan keberagaman budaya peninggalan leluhur kerajaan dan kesultanan Buton ini.

Bagaimana tidak, saat ini saja telah tercatat 68 kapal yacht dari berbagai negara mendaftarkan diri untuk berkunjung ke Buton. Padahal, puncak acara baru akan dimulai 19 Agustus mendatang.

“Soal, Kapal Yahct yang akan datang. Saya kira ini banyak sekali mereka, dari Inggris, Prancis, Canada, News Zelanda, Australia yang paling banyak, Cili ada Brazil, ini mereka datang langsung kenal Buton,” ujar Bupati Buton, La Bakry saat rapat persiapan festival budaya tua Buton di aula kantor Bupati Buton, lantai II, Kompleks perkantoran takawa, Rabu (17/7/2019).

Menurut dia, nantinya dengan kedatangan para turis itu, secara otomatis ikut mempromosikan Kabupaten Buton di negara masing-masing. Hasilnya, Festival Buton makin menggeliat di kalangan internasional.

“Dan setelahnya itu langsung dia apload dia ada di Buton. Buton itu dimana, di Indonesia, ada disalah satu Provinsi langsung masuk kekita. Langsung google itu muncul. Itulah yang mahal sebetulnya. Kalau kita bawa kenergaranya. Bianya mahal sekali. Tapi dengan dia datang dia biayai sendiri dia nikmati kita punya festival. Lalu Buton ini bisa dikenal di Negrinya. Di Negaranya,” ujarnya.

La Bakry menjelaskan, sebelumnya festival ini telah mendapatkan pengakuan dari wisatawan asing sebagai festival budaya terbesar di dunia. Kata dia tidak mudah mendapatkan pengkuan seperti itu. Perlu perjuangan keras.

Olehnya itu, ia mengajak seluruh emelen masyarakat untuk bersama-sama mendukung dan mensukseskan festival ini.

“Jadi kalau ada elemen masyarakat. Ini tidak ada festival. Jangan dilihat begitu. Jangan melihat begitu. Tidak mudah mendapatkan pengakuan dari orang-orang Bule itu. Kalau mereka sendiri tidak hakin bahwa kita patutut diberikan penghargaan seperti itu,” harapnya.

La Bakry mejelaskan pelaksanaan festival ini tidak dibuat begitu saja. Selain memperkenalkan dan mempertahan budaya leluhur. Tentu sasaran yang pelu digapai untuk kemakmuran masyatakat kabupaten Buton. Hanya saja, untuk menggapai itu memerlukan banyak waktu.

Ia lantas mencontohkan kesuksesan wisata yang ada di Bali. Kata dia, promosi wisata Bali dilakukan sejak masa orde baru. Selama puluhan tahun, mereka baru menikmati hasilnya.

“Ia memang pelan-pelan. Bali itu dua puluhan tahun sejak Orde baru sudah di perkenalkan dengan keindahan alamnya. Sekarang mereka baru dia panen,” ujarnya. (Mo1)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker