Baubau

Harga Selembar Nyawa

Catatan: Irwansyah Amunu

PEKAN ini kita dihebohkan dengan kasus penikaman seorang karyawati Metro Entertaint, Susiana di Jalan Sijawangkati, Kelurahan Lamangga,  Kecamatan Murhum, tepatnya di depan SMKN 3 Baubau.

Wanita berusia 19 tahun itu terluka di leher dan bagian belakang. Syukurnya, korban bisa dilarikan ke RSUD Palagimata hingga mendapatkan perawatan medis, dan nyawanya bisa tertolong.

Bulan lalu, diduga mencuri plat panel tenaga surya di Kelurahan Kampeonaho, Kecamatan Bungi tiga pemuda diamuk massa, Rabu (8/11) malam sekitar pukul 22.00 Wita. Beruntung, pihak Polsek Bungi segera datang ke tempat kejadian perkara (TKP) dan segera membawa ketiga pemuda tersebut ke RSUD Palagimata untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kapolres Baubau, AKBP Daniel Widya Mucharam menjelaskan, tiga pemuda tersebut bersama dua kawan lainnya mengendarai mobil jenis Avanza dengan nopol DT 7799 AG. Tiba di Kelurahan Kampeonaho mereka membongkar plat tenaga surya. Belum sempat membawa kabur hasil curiannya mereka sudah digrebek warga.

Tragisnya, satu dari tiga tersangka, setelah dirawat di RSUD Palagimata, Kamarudin menghembuskan nafas terakhir Selasa (21/11), pukul 07.40 WITA di RS Bhayangkara.

Sebelumnya lagi, Oktober warga Lipu ditikam dibilangan Simpang Lima. Diawali dengan kasus pembunuhan warga Labalawa diseputaran Pantai Nirwana.

Praktis tiap bulan terdapat kasus menyolok di Baubau. Tidak tanggung-tanggung, nyawa pula taruhannya.

Seolah nyawa murah. Padahal kita semua sadari selembar nyawa yang dimiliki manusia begitu berharga. Hanya Sang Pencipta yang mampu membuatnya.

Maka itu, fenomena sosial yang terjadi di Baubau belakangan ini harus dibaca serius, sehingga tak terulang. Memang, modus kejahatannya beragam, namun perlu dilakukan langkah tepat agar hal tersebut bisa dihentikan.

Apalagi, pada masa mendatang eskalasi politik di Baubau diperkirakan semakin meningkat dengan berjalannya tahapan Pilwali menuju hari H pencoblosan. Ditambah lagi dengan Pilgub Sultra yang bersamaan dengan Pilwali, maka kian menaikkan suhu politik.

Bila kondisi sosial tidak bisa dimajemen dengan baik, maka akan berdampak pada proses politik di pesta demokrasi Pilwali dan Pilgub.

Oleh sebab itu, semua stakeholder harus mengambil peran, tidak boleh ada yang tinggal diam. Mulai dari masyarakat, pemerintah, aparat, Parpol, Ormas, tokoh agama, adat, dan pemuda harus bertanggung jawab sesuai domainnya.

Langkah preventif lebih diutamakan dibandingkan kuratif, sejalan dengan ungkapan: Mencegah lebih baik daripada mengobati. Jangan terbiasa menggunakan filosofi “pemadam kebakaran”, nanti apinya berkobar, baru dipadamkan. Tapi bagaimana caranya, sedini mungkin mencegah jangan terjadi kebakaran.

Sebab, bila kondisi sosial bergejolak, yang rugi kita semua. Mahal harga keamanan, karena kalau Kamtibmas terganggu, praktis aktivitas pendidikan, ekonomi, dan lainnya bakal terganggu juga.

Jadi, jangan berpikir Kamtibmas hanya menjadi tanggung jawab aparat. Tapi semua ada di tangan kita untuk bersama menjaganya. (follow Twitter: @irwansyahamunu)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker