Muna

Hentikan Polemik Undangan HUT Muna!

Rusman Sebaiknya Siapkan Diri Hadapi Rajiun di Pilkada Muna

PUBLIKSATU.COM, MUNA BARAT – Polemik undangan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Muna, berbuntut panjang. Dua pemerintahan saling klaim kebenaran. Sasarannya, sama-sama petinggi daerah, dalam hal ini bupati.

Pengakuan Pemkab Muna sebagai penghelat HUT, mengundang Bupati Mubar, LM. Rajiun Tumada untuk turut hadir di acara seremoni tersebut. Namun, dari sekian bupati yang diundang, hanya bupati Mubar yang dituding enggan hadir.

Bagi Pemkab Mubar, tidak hadirnya bupati Mubar di acara HUT Kabupaten Muna bukan tanpa alasan. LM. Rajiun sebagai orang nomor 1 di Mubar, tidak mendapatkan undangan untuk menghadiri hari jadi kabupaten yang dipimpin LM. Rusman Emba tersebut.

Bantahan Bupati Mubar itu melalui Kabag Humas, tidak mendapatkan panggilan resmi, kembali ditepis pihak Pemkab Muna. Mereka tetap bersikukuh bahwa undangan yang ditujukan kepada bupati Mubar untuk menghadiri acara peringatan HUT Kabupaten Muna yang ke-60 telah dilayangkan.

Merasa difitnah bahwa ada undangan, Pemkab Mubar menyebut ada pembohongan publik yang dilakukan pihak Pemkab Muna. Pasalnya, Pemkab Mubar sama sekali tidak mendapatkan undangan. Pernyataan tersebut ditanggapi serius oleh Bupati Muna LM. Rusman Emba.

Melalui awak media, Rusman menyebut bahwa pemimpin seperti itu merupakan gambaran karakter pemimpin emosional yang tidak bisa membedakan mana tutur kata yang baik dan bijak. Katanya, sebagai pemimpin harusnya pandai-pandai bercermin dan menginstropeksi diri sehingga kondusifitas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Pernyataan Bupati Muna itu rupanya kembali memancing reaksi. Direktur Rajiun Centre, La Ode Sariba menuding bahwa penyataan yang dilontarkan unsur Pemkab Muna termasuk bupati Muna terkait undangan adalah bagian dari strategi untuk melumpuhkan gerak atau menjatuhkan citra LM. Rajiun, di mata masyarakat Muna dan Mubar.

Kata dia, ada ketakutan tersendiri bagi Rusman Emba, melihat sepak terjang LM. Rajiun Tumada selama ini ketika menghadiri berbagai acara di Muna atas panggilan masyarakat. Patut diketahui, bupati Mubar salah satu nama yang disebut-sebut bakal ikut bertarung di Pilkada Muna 2020 nanti.

“Ini hanya gaya bupati Muna untuk mencederai gerak LM. Rajiun di mata masyarakat. Karena diketahui Rajiun salah satu nama yang disebut-sebut sebagai bakal calon kandidat di Pilkada Muna nanti. Dan posisinya di mata rakyat sangat kuat. Terbukti, setiap beliau hadir di acara undangan warga, selalu dikerumuni ribuan masyarakat,” kata Sariba.

Jadi soal undangan HUT Muna, hanya sebatas alibi dan pembelaan diri bupati Muna. Dibalik itu, ada strategi politik yang diperankan untuk melumpuhkan gerak Rajiun di Muna. Karena masalah yang diributkan ini sederhana dan tidak perlu dipolemikan. Apalagi yang ngomong setingkat bupati.

“Bupati Mubar sudah bijak menanggapi tudingan Pemkab Muna. Bahwa mereka benar-benar tidak mendapatkan undangan untuk hadir di HUT Muna. Hanya, lagi-lagi ada kesan paksaan untuk mengakui bahwa ada undangan yang diterima Pemkab Mubar. Sementara faktanya undangan itu tidak ada. Makanya ada kebohongan di situ,” ungkapnya.

Pernyataan LM. Rusman Emba yang menyebut LM. Rajiun Tumada, sebagai bupati yang emosional merupakan pernyataan defensif untuk membenarkan kebohongannya. Sebab, kenyataannya sampai pada hari ini tidak ada sama sekali undangan yang diterima Pemkab Mubar dalam hal ini atas nama bupati Mubar untuk menghadiri HUT Muna ke-60.

“Saya minta bupati Muna, agar tidak cuci tangan dengan persoalan itu. Polemik ini muncul karena ada kaitannya dengan rencana pak Rajiun di Muna. Ada sentimen setelah melihat langkah-langkah bupati Mubar beberapa bulan lalu di Muna. Mereka sangat panik, apalagi melihat antusias masyarakat Muna begitu membahana ketika melihat pak Rajiun hadir,” ulasnya.

Lebih baik lanjut Sariba, bupati Muna sebagai petahana mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi Rajiun di Pilkada Muna 2020 nanti. Tidak perlu memainkan opini undangan HUT yang tidak dihadiri bupati Mubar. Masyarakat sudah dewasa menilai hal itu.

“Arahnya jelas sekal,i bahwa ada kepanikan bagi bupati Muna, termasuk kelompoknya melihat sepak terjang pak Rajiun di Muna. Kalau merasa tidak panik dan takut, tidak perlu reaktif seperti itu. Harusnya Rusman tetap berdiri tegak sebagai seorang pemimpin yang bijak, karena Muna dan Mubar satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Secara historis induknya Mubar itu adalah Muna,” tutur ketua KNPI Mubar itu.

Pria yang baru terpilih sebagai calon anggota DPRD Mubar ini berharap agar polemik undangan HUT Muna tidak usah lagi diperpanjang. Masyarakat jangan dibuat kebingungan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.

“Kalau misalkan pak Rusman masih tetap mempertahankan ini, saya kira nanti masyarakat yang uji kebenaran. Mungkin kita panggil kedua bupati ini di Mesjid Muna untuk junjung Al Quran atau sumpah pocong,” tukasnya. (p5)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker