Baubau

Intip Tradisi Qunua Masyarakat Buton, Puasa dan Proses Penciptaan Manusia

Sejak agama islam masuk ke Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada pertengahan abad ke-16 Masehi, telah menjadikan islam sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di seluruh wilayah Kesultanan Buton hingga saat ini.

Laporan: Inal Publiksatu.com

Ketika bulan suci Ramadan, ritual keagamaan melalui pelaksanaan puasa telah menghiasi berbagai aspek kehidupan sosial kemasyarakatan, sebagai bentuk aplikasi terhadap nilai-nilai islam.

Dalam salah satu riwayat, Rasulullah menyampaikan bahwa malam pertama sampai dengan malam ke-10 Ramadan disebut sebagai periode kerahmatan. Sementara malam 10 – 20 adalah periode pengampunan serta malam 20 – 30 Ramadan merupakan periode kemenangan dan kebahagiaan.

Pemahaman masyarakat Buton tentang rukun puasa juga tidak terpisahkan dengan proses kejadian manusia.

Hal ini ditandai ketika manusia merasakan lapar dan dahaga serta menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, merupakan lisasi seorang ibu yang sedang mengandung harus mempuasakan dirinya dengan penuh kesabaran dan kepasrahan agar terlahir generasi idaman.

Masyarakat Buton meyakini bahwa, seseorang yang berpuasa pada hari 1 – 10 disimbolkan bahwa dirinya sementara berada di alam arwah. Puasa pada hari 11 – 15 merupakan simbol bahwa manusia telah memasuki alam mitsal.

Sementara ketika puasa memasuki malam ke-16 merupakan simbol bahwa
manusia telah berada di alam ajsam. Di alam inilah proses kejadian manusia telah berusia 120 hari dalam kandungan, saat itulah tuhan melalui Malaikat-nya meniupkan roh ke dalam kandungan seorang ibu sebagai persiapan memasuki alam insan atau manusia yang sempurna.

Inilah yang dimaksudkan Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya:

Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan roh kedalamnya, memerintahkan dengan menuliskan 4 kalimat, yaitu tentang catatan rezekinya, umurnya, amal perbuatannya dan nasibnya sebagal orang yang beruntung atau merugi”.

Malam Qunut atau yang biasa disebut oleh orang buton yakni Qunua dilaksanakan pada 15 hari puasa atau 16 malam Ramadan. Dimulai Pukul 00.00 wita tengah malam, pelaksanaan Qunut Ramadan dihadiri oleh seluruh sarana hukumu (pengurus) Masjid Agung Keraton bersama dengan unsur pemerintah dan masyarakat.

Diawali dengan pelaksanaan salat Isya, tarawih dan witir berjamaah, berdoa bermunajat kehadirat Illahi Rabi. Melalui prosesi Qunut Ramadan ini diharapkan terjalinnya hubungan yang harmonis antara ulama dan umara (umat) sebagaimana terlukiskan dalam pesan Rasulullah SAW, yang artinya:

Ada dua golongan manusia, yang apabila baik, maka baiklah manusia dan apabila jahat, maka jahatlah manusia. itulah hubungan antara ulama dan umara”.

Setelah selesai pelaksanaan salat tarawih dan qunut dilanjutkan dengan pelaksanaan sahur bersama diawali dengan pembacaan doa awal oleh moji tertua dari segi usia bertempat di Baruga Masjid Agung Keraton.

Doa bersama ini dimaksudkan untuk
memohon kehadirat Allah SWT agar masyarakat tetap dilimpahkan rezeki, diberikan rasa aman dan tertib, dijauhkan dari segala marabahaya.

Sebagai kelanjutan dari rangkaian kegiatan prosesi qunut ramadan ini diakhiri dengan pelaksanaan “prosesi qadir” atau malam lailatull qodar. yang pelaksanaanya pada malam ke-27 Ramadan.

Ini sebagai simbol proses kejadian manusia akan berpindah ke alam insan menuju kelahiran dengan keyakinan bahwa rahmat lalilatul qadri akan turun kepada seluruh umat manusia dan melalui satu syawal semua manusia mensucikan diri lahir batin yaitu kembali pada fitrahnya sebagaimana seorang yang baru dilahirkan oleh ibunya. ***

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker