Opini

Investasi Asing : Peluang atau ancaman?

Oleh : Lina Revolt (Pemerhati Sosial)

PUBLIKSATU.COM, Investasi membanjiri Sultra. Dinas Penanaman Modal dan pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tenggara mencatat nilai investasi yang masuk ke sultra mencapai 17,1 triliunSepanjang tahun 2019 lalu. Nilai itu melampaui target yang diberikan Nasional yaitu Rp. 15 triliun

Kepala DPMPTSP Provinsi Sultra Masmudin mengatakan, realisasi ini merupakan gambaran pergerakan investasi yang cukup menggembirakan di Sultra. Sektor pertambangan masih menjadi primadona bagi investor untuk menanamkan modalnya.

Sektor lain yang ikut andil dalam realisasi investasi ini adalah sektor jasa, pertanian, perkebunan dan pariwisata. Namun, sektor pariwsata belum terlalu memberikan dampak signifikan.

Menurut Masmudin sektor sumber daya alam dan pertambangan masih seksi dan memiliki nilai jual tinggi dikalangan investor. ( ZonaSultra.com, 21/1/20).

Bahaya Investasi Asing
Kekayaan Alam Sultra yang melimpah, tentu sangat menggiurkan. Karena itulah Sultra termasuk daerah yang menjadi primadona bagi para investor.

Bak dayung bersambut, Banyak yang beranggapan bahwa dengan adanya investasi asing maka pemerintah dianggap sukses membangun ekonomi.

Makin banyak investasi Masyarakat akan diuntungkan dengan terbukanya lapangan kerja yang seluas- seluasnya. Mantra ini terus didengungkan hingga membuat sejumlah daerah sangat bangga dengan hadirnya investasi asing di wilayah mereka.

Namun faktanya, banyaknya investasi tak berbanding lurus dengan kesejahteraan di Sultra. Misalnya di Kabupaten Konawe yang merupakan basis tambang, Namun Sebanyak 31 ribu orang di Konawe masuk kategori miskin, di tahun 2019. Jumlah itu lebih rendah dibanding tahun 2018 lalu dimana jumlah warga miskin sebanyak 33.400 orang. Meski demikian tetaplah 31 ribu bukan jumlah yang sedikit. ( MediaKendari.com, 24/1/20).

Hadirnya investasi asing justru akan menjadikan hegomoni asing dinegeri ini semakin kokoh. Para investor akan memiliki Berbgai perusahaan besar dan segenap aset sumber daya alam. Semntara rakyat akan menjadi ” jongos” di negeri mereka sendiri.
Bahaya investasi asing bisa kita lihat dari dua hal sebagai berikut.
Pertama, Penjajahan Ekonomi. Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam mengemukakan, sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat umat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara.

Setiap investasi yang masuk pasti memiliki persyaratan. Dalam sistem demokrasi ‘ No free lunch’. Semua harus ada bayaranya. Mengapa sektor sumberdaya alam dan tambang masih menjadi primadona bagi para investor, karena sektor ini akan memberikan keuntungan yang sangat fantastis. Kekayaan alam akan dikeruk habis, sementara rakyat yang menerima dampaknya. Baik dampak ekonomi seperti kemiskinan maupun dampak kerusakan lingkungan akibat keserakahan para pengusaha.

Pada saat kekayaan Sultra sudah dikuasai penanaman modal asing, maka ekonomi kita secara keseluruhan dari hulu sampai hilirnya adalah ekonomi bangsa lain. Ekonomi yang kita hitung tiada lain adalah ekonomi bangsa lain. Sehingga perhitungan PDB kita sejatinya hanya menghitung dari produksinya orang-orang asing yang beroperasi di daerah-daerah di Indonesia, tidak mencerminkan produksi bangsa sendiri.

Kedua, Bahaya Ideologis. Secara ideologis, haluan ekonomi politik negeri ini sudah menjadi haluan ekonomi dan politik yang mengabdi kepada kepentingan bangsa lain, sepeti Amerika, Jepang, Eropa, dan juga Cina.

Salamuddin Daeng, Peneliti Indonesia for Global Justice mengemukakan pandangannya bahwa kita bernegara, kita berkonstitusi hanya menyediakan suatu ruang, bahkan dalam bentuk yang paling asli, kita menyediakan tanah, gedung, jalan, infrastruktur, dan segala macamnya yang ada di negeri ini, semata-mata untuk memfasilitasi bangsa lain untuk mengeruk kekayaan negara kita.(MuslimahNeswID, 6/3/19).

Seharusnya dengan banyaknya sumber daya Alam di Sultra ini. Menjadikan negeri ini mandiri. Namun kita ditipu oleh makna modal itu sendiri. Seolah modal itu hanya berupa uang. Padahal sumberdaya alam adalah modal yang tak ternilai harganya.
Mengakhiri Ketergantungan Investasi Asing

Untuk memutus rantai investasi memang dibutuhkan keberanian.Syariah Islam telah memiliki aturan yang jelas. Al-qur’an dan Sunah telah memberikan koridor, bahwa kepemilikan dalam pandangan ekonomi Islam itu dibagi tiga yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Khusus untuk kepemilikan umum, yang meliputi berbagai pertambangan besar, minyak bumi, gas alam, batubara, hutan dan sebagainya, wajib dikelola oleh negara untuk didistribusikan kepada pemiliknya yang hakiki yaitu rakyat. Secara adil dan merata, secara langsung maupun tidak langsung. Kepemilikan umum tersebut tidak boleh berpindah kepemilikannya, baik berpindah kepada negara maupun kepada swasta, apalagi kepada swasta asing. Semua Undang-undang dan kebijakan yang dibuat pemerintah wajib taat kepada asas ini.

Oleh karena itu, tidak mungkin ada negara yang mau mengamalkan sistem ekonomi Islam, kecuali apabila negara itu telah mengimani Al-qur’an dan Sunnah. Hingga dapat dipastikan bahwa prioritas dan mekanisme alokasi anggaran dan belanja dalam pemerintah Islam dapat menghindari investasi asing dengan pengelolaan sumber daya alam yang benar dan amanah. Wallau a’lam Bishowab.

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker