Busel

Kasus HIV Aids di Busel Terus Meningkat

BUTONPOS.COM, BATAUGA – Kasus penyakit HIV Aids mengalami peningkatan dari tahun 2016. Tahun 2017 ini saja, hingga September lalu ditemukan delapan kasus penderita HIV Aids di Buton Selatan (Busel).

Kepala Dinas Kesehatan Busel, dr Darwis Makka melalui staf Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Busel M Arafat B SKM MSi menyatakan, delapan kasus penderita HIV Aids hingga September, belum masuk data hingga Desember. Namun menurutnya angka itu dipastikan akan bertambah.

“Hingga bulan September sebanyak delapan kasus. Untuk bulan Oktober hingga Desember ini belum dikompilasi, tapi sudah ada temuan juga, berarti jumlahnya akan bertambah dari delapan itu. Bisa jadi 10 bisa jadi 12 nanti,” kata Arafat kepada Buton Pos ketika dikonfirmasi, Minggu (3/11).

Kata dia, dibandingkan tahun 2016 lalu, kasus HIV Aids di Busel ditemukan hanya enam kasus. Dari enam kasus itu yang memiliki alamat di Busel ada dua. Empatnya warga Busel tapi beralamat diluar, jadi penanganannya di luar Busel.

Yang memiliki otoritas penanganannya itu di rumah sakit daerah Palagimata. Sedangkan pencatatnya penyakit HIV Aids dikembalikan ke daerah masing-masing. “Dan penanganannya di rumah sakit Palagimata. Karena di BLUD RSU Palagimata yang menjadi otoritas penanganan HIV Aids ini,” katanya lagi.

Ia menjelaskan, delapan kasus ini sudah mendapatkan penanganan medis. Pengobatannya berjalan sampai sekarang. Untuk delapan kasus itu semua warga Busel yang pengobatannya terus dilakukan. Dari jumlah itu beberapa diantaranya sudah meninggal akibat terlambat dilakukan penanganan, sudah parah penyakitnya baru ditangani medis.

Lanjut dia, penyebabnya sebagian besar terinfeksi dari luar Busel kemudian dibawa ke Busel, sehingga terjangkit ke anak dan istrinya. Penyakit ini terjangkit akibat hubungan seks bebas. “Luar daerah biasanya dari Kota Baubau atau dari perantauan,” tambahnya.

Arafat mengakui, untuk penanganannya Kabupaten Busel sejak 2015 akhir sudah ada Komisi Penanggulangan Aids (KPA), tapi belum berjalan maksimal fungsi dan tugasnya. Ini akan diubah program kerjanya karena sebelumnya melibatkan SKPD.

Penggiat LSM Laha ini juga mengungkapkan, kedepan tugas utamanya adalah sosialisasi pencegahan timbulnya penyakit HIV Aids di seluruh kecamatan, desa/kelurahan di Busel. “Sehingga saudara-saudara kita yang kerja merantau di luar daerah maupun imigran yang kerja diluar negeri itu menjadi bekal bagaimana mencegah penyakit memamtikan HIV Aids ini. Karena kalau terkena diluar pas pulang ke kampung kasian keluarganya. Karena kasus yang ada selama ini begitu gambarannya,” terang Arafat.

Kata dia, jika dihitung sejak 2007 kasus di Busel itu ditemukan penderita HIV Aids. Kumulatifnya sebanyak 40 orang, menyebar di seluruh kecamatan. Tiap kecamatan ditemukan kasus ini. “Semua kecamatan sudah menyumbangkan kasus meskipun hanya satu kasus,” ujarnya.

Menurutnya, KPA ini nantinya harus diproaktif kan lagi. Soal penggagarannya tidak berdiri sendiri karena bukan SKPD. Idealnya melekat di Bagian Kesra. Tapi kemungkinan belum terkoordinasinya dengan baik sehingga belum maksimal berjalan program kegiatannya. Kedepan hal ini yang akan digenjot. “Sebagian besar akibat ketidaktahuan masyarakat akan penyakit HIV Aids ini,” imbuhnya.

Ia menambahkan, stigma negatif dan diskriminasi terhadap penderita HIV Aids ini sangat tinggi. Sehingga hal ini juga mengancam psikologi penderita. Sehingga di lingkungan sosial mereka drop dengan hal itu. (aga)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker