Buteng

Kisah Saudara Kembar Beda Alam Bertemu Kembali Setelah Terpisah Puluhan Tahun

Nenek Samsiah asal Desa Kamama Mekar, Kecamatan Guu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, bertemu dengan saudara kembarnya setelah puluhan tahun terpisah. Menariknya, kembaran nenek Samsiah bukanlah manusia pada umumnya, melainkan seekor gurita yang hidup di laut. 

Laporan: Kasim/butonpos.com

RUMAH berukuran minimalis milik nenek Samsiah mendadak ramai dikunjungi warga desa. Mereka ingin melihat secara langsung gurita yang diklaim nenek Samsiah sebagai saudara kembarnya yang sempat terpisah puluhan tahun lamanya.

Konon cerita, Samsiah kala lahir ke dunia di Kota Ambon, ia memiliki kembaran yang berbeda alam. Orangtuanya kala itu melepas kembaran nenek Samsiah yang diklaim sebagai kakak Samsiah di laut.

Sejak saat itu, sang ayah selalu memberi perhatian kepada kembaran beda alam ini. Jika Samsiah diberikan sesuatu, maka kembarannya juga mendapatkan pemberian yang sama. Tidak ada yang dibedakan diantaranya keduanya.

Kontak batin kedua kembar berbeda alam ini begitu kuat. Ketika kakak kembarannya sakit, maka sebagai adik, Samsiah sudah pasti akan merasakan sakit yang sama. Begitu juga sebaliknya.

“Saat ayahku dulu masih ada, pokoknya kita ingat terus,” katanya kepada butonpos.com saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/12/17).

Entah karena apa, tanpa cerita yang jelas kepada butonpos.com, nenek Samsiah putus kontak dengan kembarannya itu. Terlebih, saat terjadi kekacauan di Kota Ambon belasan tahun lalu yang memaksa Samsiah harus mengungsi hingga ke Buton yang kini sudah mekar dan terbentuk sebagai DOB yakni Buton Tengah, menjadikan jarak keduanya semakin jauh.

Namun, Rabu (13/12/17) kemarin kedua kembaran berbeda alam itu dipertemukan kembali.

Semua berawal ketika hati sang nenek merasa terpanggil untuk menemui sang kakak di laut.

Lantas dengan langkah cepat, Samsiah bergegas di laut berharap untuk berjumpa dengan saudaranya.

Setibanya di laut, muncullah gurita berukuran besar dihadapan Samsiah. Melihat sosok gurita ini, Samsiah pun berucap dalam hati “jika kamu memang benar saudara kembaranku, segerahlah ke sini dalam pangkuanku’.

Sesaat itu juga, tanpa membutuhkan waktu yang lama, si gurita langsung mendekati nenek berusia 50 tahun ini. Padahal, berdasarkan logika, hewan laut seperti gurita, pada umumnya akan menjauhi manusia. Namun hal berbeda justru terjadi saat pertemuan keduanya itu.

“Saat kita bertemu, saya bilang dia mari datang di sini saya gendong jika saudara kembarku, dia merayap. Saya senang sudah bertemu dia,” kenang Hamsinah di kediamannya, Selasa (13/12/17).

Merasa kangennya belum terpuaskan, Samsiah pun berinisiatif membawa pulang kakaknya ke rumah. Untuk kemudian dibacakan syukuran selamatan.

Sekilas, jika melihat fisik gurita, kakak Samsiah begitu berbeda. Jika gurita umumnya memiliki delapan lengan, lain halnya dengan kakak Samsiah yang memiliki sembilan lengan.

Meskipun berbeda alam dan bentuk, namun suasana bahagia bisa terpancar dari wajah Samsiah. Layaknya manusia, Samsiah memeluk gurita yang dibarengi dengan linangan air mata. Sesekali, Samsiah mengajak bicara kakaknya itu.

Pengakuan dari salah satu warga yang ikut menyaksikan keharuan tersebut mengatakan, sebelumnya ukuran gurita ketika diambil dari laut begitu besar. Tetapi saat warga mengerumuni, ia langsung mengecil.

“Saat dibawa pertamanya besar sekali, tetapi setelah dikerumuni langsung mengecil. Mungkin dia malu karena banyak yang datang atau bahagia karena ketemu sama saudaranya,” ucap salah satu warga. (***)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker