Baubau

Lebih Dekat dengan Tradisi Santiago Ziarah ke Makam Sultan Murhum

Monianse dan H Zahari Berdampingan

RANGKAIAN Festival Keraton Kesultanan Buton tetap berlangsung kemarin. Sesuai agenda, acaranya adalah Santiago. Bagaimana prosesinya?

Laporan: Irwansyah Amunu, Baubau

KHIDMAT acara Santiago kemarin. Urutan iring-iringan dimulai dari Tamburu Galangi, pemegang tikar, pemegang pemikul dupa, salawatu pengawal, barisan Wakil Walikota, La Ode Ahmad Monianse didampingi Ketua DPRD Baubau, H Zahari, dilanjutkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Rombongan bergerak menuju makam Sultan Murhum yang berada diareal Benteng Keraton Buton. Pemandangan tersebut sontak mengundang perhatian publik.

Semua barisan iring-iringan mengenakan pakaian adat Buton. Pria, wanita, tua, muda, dan anak-anak kompak. Inilah yang menyita perhatian.

Tiba di makam Sultan Murhum, Monianse dan H Zahari duduk bersila bersebelahan. Mereka berhadapan dengan perangkat adat dan agama yang juga duduk bersila.

Berdasarkan booklet yang dikeluarkan pihak Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Baubau, Santiago merupakan tradisi berziarah ke makam para Sultan-sultan Buton yang ada di dalam Benteng Keraton dan sekitarnya.

Di era Kesultanan Buton dilaksanakan pada tanggal 2 Syawal setelah salat Isya hingga menjelang salat subuh yang turut dimerihkan oleh pejabat kesultanan dan masyarakat. Karena begitu ramai dan meriahnya kegiatan yang berlangsung di hari ke-2 lebaran Idul Fitri ini, maka sering disebut dengan raraea malo, yang berarti berlebaran di malam hari. Pada era pendudukan Jepang karena keadaan yang tidak memungkinkan, maka pemerintah Kesultanan Buton mengadakan Santiago di pagi hari tanggal 2 Syawal hingga sore menjelang malam.

Iring-iringan Santiago terdiri dari pasukan inti kesultanan Buton yang disebut dengan kompanyia sejumlah 11 regu yang dilengkapi dengan tambur (tamburu) dan bendera (tombi). Selain kompanyia, santiago dilengkapi dengan Salawatu, pau karatasi (payung kertas kesultanan), para Bonto yinunca (menteri-menteri yang bertugas di istana), para prajurit dan para pejabat kesultanan Buton lainnya. Pada prosesi Santiago ini ikut serta dua orang moji (aparat Masjid Agung Kearaton) untuk memimpin doa.

Salawatu yang merupakan seorang perempuan muda yang mengenakan pakaian kombo memegang kabubusi (air yang diberi wewangian berupa jeruk purut dan kembang kamboja) yang digunakan untuk menyiram makam Sultan. Salawatu ini dipayungi oleh kenipau (pemegang payung kesultanan) sebagai bentuk penghormatan akan jasa-jasa para sultan yang pernah memimpin Buton. Setelah moji membaca doa maka akan dilakukan penyiraman makam Sultan.

Iring-iringan kompanyia akan memainkan tari galangi di depan kamali (istana Sultan), Masigi Ogena (Masjid Agung Keraton Buton), Baruga dan setiap makam Sultan sebagai bentuk penghormatan terhadap para Sultan yang telah mangkat.(*****)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker