Buton

Manisnya Madu tak Semanis Mendapatkannya di Dalam Hutan Lambusango

Laporan: Agusrin Butonpos.com

MANISNYA madu Lambusango, Kabupaten Buton, Sultra yang terkenal akan keasliannya ternyata meninggalkan cerita yang begitu menarik untuk disimak pembaca setia butonpos.com maupun bagi para penikmat madu Lambusango.

Madu yang dapat dinikmati hanya dengan merogoh dompet Rp 100 ribu perbotol (600 ml, red) jika lagi musim dan Rp 150 ribu jika lagi sulit ini tidaklah semanis rasanya ketika didatangkan dari dalam hutan oleh si pencari madu.

Untuk mendapatkan madu asli ini, si pencari madu harus berjuang melawan ganasnya hutan belantara.

Seperti yang dikisahkan Bapak Afan (51). Kepada butonpos.com, ayah dari empat orang anak ini harus berjuang mencari lebah di Hutan Lambusango selama tiga hari lamanya.

Serangan binatang buas dan gigitan lebah itu sendiri menjadi ancaman keselamatan jiwa yang harus dilaluinya tiap kali menempuh jantung hutan belantara Lambusangao.

“Kita jalan itu tiga hari di dalam hutan. Kadang kita masih jalan kita tidak sadar sudah injak ular,” kisahnya babak Afan plada Butonpos.com, Senin (4/12/17).

Tak hanya itu, lanjut bapak yang sudah mengggeluti profesi pencari madu sejak SD ini, ancaman lainnya tidak hanya datang dari binatang buas, namun posisi sarang madu yang berada diketinggian. Ia harus memanjat pohon begitu tinggi yang terkadang mencapai puluhan depa. Jika terkilir sedikit saja, maka nyawa taruhannya.

“Terus kalau kita sudah dapat sarangnya, kita panjat lagi. Kadang main tiga puluh depa itu,” kisahnya.

Penderitaan si pencari madu tidak berhenti disitu saja. Meski bisa dibilang sudah berpengalaman keluar masuk hutan tanpa kompas. Namun, terkadang bisa kesasar untuk menemukan jalan pulang ke kampung. Jika sudah begini, sudah dipastikan perbekalannya akan habis, maka ia harus bertahan hidup dengan memanfaatkan apa yang disediakan alam. Makan pucuk daun aren tidak menjadi masalah baginya, asal bisa bertahan hidup.

“Pernah kesasar tiga hari dalam hutan. Jadi daunnya konau (aren) itu saya jadikan atap, terus pucuknya, jadikan makanmi,” kisahnya.

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker