Sultra

Menelisik Perjalanan Hotel Pertama di Jalan Malik Raya Kendari

Bisnis Perhotelan Berkembang Pesat, Hotel Fauziah Nyaris Tergilas

Di tengah laju perkembangan bisnis perhotelan yang kian menjanjikan, dan berdiri hotel-hotel megah di Kota Kendari, banyak hotel-hotel lama yang harus tutup bahkan gulung tikar. Namun tidak dengan Hotel Fauziah. Menjadi salah satu hotel pertama di Kota Kendari, Hotel Fauziah tetap bertahan walaupun nyaris tergilas.

LAPORAN: DARMONO DJUNUHI/BUTON POS

Hotel Fauziah yang masih kokoh meskipun sudah berumur belasan tahun dan menyisahkan sepenggal cerita kisah terdahulu. Wajahmu kini tampak kusam jika disandingkan dengan bangunan hotel lainnya. Namun menyimpan kenangan lama, di mana pernah mencuat namanya diera 1998-an.

Kala itu, Hotel Fauziah telah memberikan catatan yang diukir lewat senandung sejarah tempo dulu. Bahwa sekitar 80 persen pendatang yang mengunjungi Kota Kendari pernah menginap di kamar Hotel Fauziah. Bahkan para pelanggan itu masih bertahan dan setia sampai saat ini. Dan Hotel Fauziah bertahan meski harus bersaing dengan hotel mewah disekitarnya.

Hotel Fauziah merupakan satu-satunya penginapan yang ada di jalan Malik Raya Nomor 9 Kota Kendari berdiri sejak tahun 1998. Hotel ini berdiri dengan corak kesederhanaan dengan lebih mengedepankan unsur kehidupan kekeluargaan.

Di tengah gejolak modernisasi, Hotel Fauziah tak rentan dimakan waktu dan tak juga runtuh oleh pergeseran persaingan manajemen hotel-hotel lainnya yang lebih megah. Hotel ini tetap berdiri kokoh memperlihatkan eksistensinya dalam menampung banyaknya pengunjung Kota Kendari disela hari libur.

Kendati demikian, Manajemen Hotel Fauziah yang dibangun memakai sistim kekeluargaan mampu memperlihatkan kepribadiannya sebagai sosok yang penuh kesederhanaan, namun mengandung inspiratif bagi para pengunjungnya.

Firman Syah Amrin, kelahiran 1975, anak kedua dari tujuh bersaudara, merupakan salah satu pemilik Hotel Fauziah. Dia menjelaskan, membuka Hotel Fauziah sejak tahun 1998 sebelum dirinya membina hubungan rumah tangga. Hotel ini awalnya merupakan rumah milik kedua orang tuanya, yang saat itu sering ditinggal oleh keluarganya ke Sulawesi Selatan (Makassar).

Firman Syah Amrin menikah dengan Istri, Helen Maria Tingkan dan dikaruniai dua orang anak, Bintang (15 tahun) dan Beril Firmasnyah (6 bulan). Mereka merintis Hotel Fauziah dan bertahan hingga saat ini meski nyaris tergilas waktu yang tiap berganti dengan kemolekan yang seolah mencampakkan nilai budaya dan kearifan kehidupan lokal.

“Dimana akhirnya pada saat itu terbesit niat untuk membuat hotel, yang sebelumnya karena rumahnya sering digunakan sebagai tempat persinggahan untuk menginap bahkan sampai dikontrak oleh beberapa tamu yang sering berkunjung di Kota Kendari,” jelasnya.

Saat itu Hotel Fauziah merupakan satu-satunya hotel di jalan Malik Raya. Hotel ini menawarkan konsep kesederhanaan dan bersahabat dengan tarif kala itu hanya Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu untuk satu kamar dengam fasilitas kasur, kamar mandi dan kipas angin. Kini berbeda, fasilitas yang disiapkan di dalam kamar mulai dikembangkan untuk bisa memberikan kenyamanan bagi para pengunjung atau pelanggan.

“Pada tahun 1998 tersebut saya sendiri di Jalan Malik Raya dan sekarang ada sekitar 10 hotel yang berdiri di sini. Waktunya saja beragam pembuatannya, ada yang tahun 2000, tahun 2004 dan bahkan ada yang berdiri tahun 2016. Sehingga hotel untuk di jalan Malik Raya ini sudah mulai banyak sampai dengan berjumlah 10,” imbuhnya.

Fauziah adalah nama salah satu saudara Firman Syah Amrin. Karena orang tua tidak lagi tinggal di Kendari, sehingga rumah dengan ukuran besar itu oleh Firman diinisiasi untuk dijadikan hotel dengan menggunakan nama saudaranya, yakni Fauziah.

“Pada tahun 1998 saat ia membuka penginapan, Hotel Fauziah banyak dikunjungi oleh orang yang berkunjung. Karena pada saat itu hotel masih jarang dan Hotel Fauziah merupakan hotel pertama yang berdiri di wilayah Jalan Malik Raya,” terang Firman sambil mengulas cerita terdahulu.

Ia menjadikan rumah sebagai hotel karena saat itu tidak berani berutang di bank untuk pinjaman modal. Memang dari segi perkembangan, Hotel Fauziah sangat lambat dibanding hotel-hotel megah di sekitarnya, namun hotel ini tetap eksis dengan desain kesederhanaan.

“Untuk kerjaan lainnya, bisanya saya bekerja sebagai pemborong atau apa saja yang bisa dijadikan sebagai tambahan penghasilan sehari-hari dan pekerjaan serabutan apa saja untuk nilai tambah keuangan. Selain buka hotel, kami juga menyandingkan dengan warkop dan warung makan. Karena kebutuhan pengunjung kan bukan hanya nginap, namun bisa nongkrong dan juga makan,” sambungnya.

Dalam artian, tambah Firman, untuk manajemen hotel sendiri di dalamnya yang terpenting bisa membayar karyawan, bisa membayar lampu dan lain sebagainya. Konsep manajemen di sini juga lebih mengutamakan nilai kekeluargaan, disamping memiliki ilmu otodidak dan setiap harinya ketemu dengan orang banyak untuk landasan sebagai perbaikan mengenai manajemennya dan etika cara penerimaan tamu.

“Intinya saat ini, Hotel Fauziah akan dipadukan dengan konsep Syariah. Karena saat ini kebanyakan orang ketika menyebutkan hotel sudah pasti konotasinya ke arah negatif. Sehingga dengan adanya konsep syariah ini, tamu yang datang bisa lebih selektif dan menjauhkan diri dari kategori berbuat maksiat dan di dalamnya menjauhkan minuman beralkohol,” bebernya.

Untuk karyawan di Hotel Fauziah sendiri, saat ini berjumlah enam orang dan kamarnya hanya berjumlah 16 dan satu buah tempat pertemuan (aula). Jadi Hotel Fauziah ini sama dengan hotel-hotel lainnya, dimana di hotel ini juga melayani untuk kegiatan rapat dan pelatihan, jika sewaktu-waktu ada yang ingin melakukan kegiatan di sini, silakan menemui manajemen hotel.

“Untuk fasilitas yang perlu diketahui yaitu setiap kamar memiliki kasur, kamar mandi dalam, AC dan televisi. Serta untuk gedung aula sendiri dilengkapi dengan soundsistem, LCD, meja belajar, papan tulis dan kami juga mempersiapkan restoran untuk para tamu sehingga tidak perlu keluar jauh untuk mencari makan karena di hotel juga sudah mempersiapkannya. Untuk saat ini, harga perkamarnya berkisar Rp 200.000,” pungkasnya. (***)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker