Buton

Merger Ditolak, Akper Buton Bakal Ditutup?

BUTONPOS.COM, PASARWAJO – Berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Pemda), pemerintah kabupaten/kota dan provinsi tidak dibolehkan lagi menangani perguruan tinggi. Hal ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton langsung berupaya memergerkan Akper Buton ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Namun belakangan, merger itu ternyata ditolak.

Bukan hanya Akper Buton, berdasarkan surat Kemenkes RI No OT.01.03/2/003633/2017 perihal alih kelola Perguruan Tinggi Kesehatan milik Pemerintah Daerah (PT Kesda), ada 11 kampus lain mendapat penolakan yang sama. Dari 33 perguruan tinggi yang mangajukan merger, 19 diantaranya diterima, kemudian menolak 12 lainnya termasuk Akper Buton. Sedangkan duanya lagi ada yang tidak komitmen bergabung dengan Kemenkes, dan ada pula mahasiswanya sudah bergabung dengan Poltekes lain.

Mendapat penolakan seperti ini, tak lantas membuat Akper Buton menyerah begitu saja. Berbagai upaya akan terus dilakukan agar keberlangsungan proses perkuliahan dapat terus berjalan.

Direktur Akper Buton, Muslimin Siraja mengaku, belum mengetahui pasti dasar dari penolakan itu. Menurutnya, semua ketentuan merger yang diajukan pihaknya sudah dipenuhi. Mulai dari dasar pendirian kampus hingga kepada pernyataan kesiapan penyerahan aset sudah dilampirkan dalam usulan merger tersebut. Tidak ada satupun yang terlewatkan dalam pemenuhan syarat dan kriterianya.

Sehingga, ketika menerima surat penolakan merger dari Kemenkes RI, Muslim Siraja mengaku bingung. Sebab, dasar penolakannya tidak dijelaskan dalam surat tersebut.

“Kita tidak tau juga kenapa sampai ditolak. Nanti kita akan telusuri apa alasannya. Sebab menurut sepengetahuan kami, semua syarat dan kriterianya sudah terpenuhi. Bahkan disitu ada pernyataan Pak Plt Bupati bahwa aset bergerak maupun tidak bergerak siap dilepaskan melalui persetujuan DPRD Buton kalau mergernya sudah diterima,” ucap Muslimin Siraja ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/12).

Dia menjelaskan, kendatipun diperhadapkan dengan kemungkinan terburuk, tidak akan serta merta melepaskan tanggung jawab begitu saja. Terhadap lebih kurang 340 mahasiswanya, tetap akan diselesaikan proses perkuliahannya.

“Kalaupun kemungkinan terburuknya setelah kita berusaha tetap tidak diterima, maka proses perkuliahan semua mahasiswa yang ada tetap kita akan selesaikan. Sebagai direktur, saya tidak akan melepaskan tanggung jawab begitu saja,” tandasnya. (man)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker