Busel

Polemik Lahan APL Eks Jati Mencuat

PUBLIKSATU.COM, BUTON SELATAN – Pasca-diturunkan statusnya dari hutan lindung menjadi Area Peruntukan Lain (APL) polemik lahan eks Jati di Kecamatan Sampolawa seluas 514 hektare tak kunjung usai. Terbaru mencuat dugaan sejumlah oknum warga di sekitar lahan sudah saling klaim kepemilikan.

Bahkan diantaranya sudah membangun bangunan permanen. Sementara status lahan itu belum diatur secara konkrit regulasi peruntukannya.

Menurut anggota DPRD Busel, La Ode Muhammad Amal ada aset lahan Pemkab Buton Selatan (Busel) di Kecamatan Sampolawa yang diturunkan statusnya dari hutan lindung menjadi APL oleh Pemprov Sultra sekitar 500 hektar.

Ia khawatir jika hal ini tidak ditangani secara objektif dan bijaksana akan menjadi polemik konflik sosial dikemudian hari. “Saat ini tinggal bom waktu kembali menjadi polemik,” imbuhnya.

Meski begitu, kata dia, jika persoalan aset lahan APL ini diantisipasi sejak dini, itu bisa ditangani bahkan tidak ada konflik sosial.

Menurutnya, lahan sekitar 500 hektare itu tidak jelas penggunaanya. “Jadi mungkin ada langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan pemerintah. Saya tiap saat kesempatan menyuarakan persoalan ini agar ditangani Pemkab Busel ada solusi langkah-langkah konkrit,” katanya.

Menurutnya, persoalan ini dikhawatirkan menjadi bom waktu. Lahan eks jati kurang lebih 500 hektare itu tidak jelas. Masinng-masing oknum warga dari berbagai desa/kelurahan itu sudah saling mengklaim sebagai hak milik mereka,” imbuhnya.

Padahal, kata dia, sebelumnya Pemkab untuk mencari lokasi lahan untuk pembangunan teminal tipe C di Kecamatan Sampolawa setengah mati. “Saya kira Pak Bupati juga sudah tahu persoalan ini,” katanya dalam forum dengar pendapat bersama Pemkab beberapa waktu lalu di Aula Lamaindo.

Padahal lahan APL di eks jati itu, lanjutnya, sangat jelas lahan itu diturunkan statusnya menjadi APL milik Pemkab Busel.

Ia berharap, Pemkab Busel membuat Satgas ataupun apapun namanya untuk mencari solusi terbaik penanganan lahan APL eks Jati Sampolawa agar ditangani secara objektif dan bijaksana.

“Agar supaya lahan APL eks Jati itu jelas. Dan masyarakat pun juga tahu bahwa ini miliknya Pemkab. Jadi kalau ada langkah-langkah penyelesaian. Jika kedepan dipakai lahan eks jati itu tidak lagi berbenturan dengan masyarakat. Karena warga tahu bahwa lahan itu milik Pemkab,” katanya.

Ia menjelaskan, mestinya hal ini harus ada legalitas yang jelas sesuai ketentuan dan perundangan-undangan.

Menurutnya, persoalan lahan itu digunakan untuk pertanian dan perkebunan itu juga mestinya diatur. “Saya berharap ada solusi secepat mungkin dan sekongkrit mungkin menangani persoalan ini. Sehingga lahan itu kedepan tidak menjadi bom waktu,” harapnya.

Ketua DPRD Busel, La Usman menambahkan, lahan itu peruntukannya ada tiga, yakni kawasan pemerintah, perkebunan, dan pemukiman.

Hanya saja kata dia, ini yang mesti ditangani secara jelas dan ada regulasi konkrit yang dibuat Pemkab untuk mengatur. Sehingga tidak menjadi bom waktu konflik sosial soal lahan APL di Sampolawa tersebut.

“Kita khawatir, karena saat ini oknum masyarakat kita di Todombulu, Lapola, Saumulewa, Gunung Sejuk, dan Lipumangau itu sudah saling klaim kepemilikan. Tolong Pak Bupati kata pasti itu milik tuhan. Tapi kondisinya seperti saat ini suatu saat nanti pasti bermasalah, kita khawatir menjadi masalah sosial,” imbuhnya.

Karena kenapa lanjut dia, sebagian oknum masyarakat sudah membangun permanen di lahan APL itu. Seakan-akan lahan itu tanah tak bertuan.

“Bicara soal lahan APL itu kewenangan pemerintah daerah. Makanya kita berharap pemerintah daerah menyikapi hal ini sehingga bisa mengantisipasi hal yang tidak diingikan dikemudian hari,” katanya.

Plt Bupati Busel H La Ode Arusani mengatakan, Pemkab akan menangani persoalan itu. Pihaknya menginstruksikan bagian hukum, Tapem, dan instansi terkait untuk menangani persoalan ini.

“Saya berharap bagian hukum, Tapem untuk mencari langkah-langkah konrit untuk penyelesaian persoalan itu secepatnya,” harapnya. (aga)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker