Hukum

Polisi Dalami Dugaan Mark Up DD Bahari Makmur

BUTONPOS.COM, PASARWAJO – Laporan warga Desa Bahari Makmur, Kecamatan Siotapina, Amin Taslim, tentang dugaan mark up pengelolaan dana desa (DD) tahun 2016 terus didalami Reskrim Polres Buton. Sejauh ini, sudah enam orang yang diperiksa sebagai saksi termasuk Kepala Desa (Kades) Bahari Makmur, Si Tuti.

“Sudah kita lakukan penyelidikan. Sudah enam orang yang kita periksa termasuk termasuk kepala desanya,” kata Kasat Reskrim Polres Buton, Iptu Hasanuddin, ketika dikonfirmasi, Selasa (19/12) lalu.

Selain memeriksa enam orang saksi, pemeriksaan atas hasil pekerjaan berupa reklamasi pantai di Bahari Makmur juga sudah dilakukan oleh Reskirm Polres Buton. Sekarang masih ada tiga pihak terkait yang akan diperiksa.

“Kemarin saya sudah perintahkan anggota untuk memeriksa lagi tiga orang. Tapi apakah sudah dilakukan atau belum, belum saya konfirmasi lagi dengan anggota,” ungkapnya.

Dikatakan, jika yang tiga orang itu sudah diperiksa, pihaknya akan menjadwalkan lagi untuk memeriksa pihak yang mengadakan material.

“Yang mengadakan batu dengan pasir nanti kita akan periksa juga,” tandasnya.

Seperti dilansir sebelumnya, Ketua Departemen Pemberdayaan Masyarakat Pengurus Besar Forum Pemersatu Masyarakat Ciacia (PB Formaci), Baharuddin M SSos mengatakan, Kades Bahari Makmur, Kecamatan Siotapina, Si Tuti hanya kebetulan sial. Pasalnya, dugaan mark-up pada laporan pengelolaan DD itu terjadi hampir di semua desa di Kabupaten Buton.

Menurutnya, yang dialami Kades Bahari Makmur merupakan bagian kecil dari dugaan mark-up. Ibarat gunung es, yang nampak di permukaan terlihat kecil, tetapi sesungguhnya yang tersebunyi lebih besar.

Artinya, sambung Baharuddin, dugaan yang terjadi pada Kades Bahari Makmur mayoritas terjadi pula di desa lain. Hanya saja, masyarakat kurang berani melaporkan. Apalagi kontrol atau pengawasan dari pihak terkait sangat minim, sehingga oknum Kades dan perangkatnya mudah saja melakukan mark-up.

Dikatakan, saat ini banyak warga menilai DD hanya dinikmati oknum Kades dan perangkatnya. “Coba dilacak tabungan di bank setiap kepala desa, ada yang ganjil atau tidak. Benarkah mobil dan rumah yang dibangun oleh oknum kepala desa hasil keringatnya, jangan-jangan dari hasil mark-up dana desa. Kalau pihak terkait melacak semua itu, maka akan terbongkar semua, bukan hanya di Desa Bahari Makmur,” ucapnya.

Jadi, lanjut Baharuddin, semua pihak yang terkait langsung dengan pengelolaan DD mesti disalahkan bukan hanya Kades. Kasus dugaan mark-up tak akan terjadi kalau sejak proposal dari desa diajukan sampai pencairan dana desa itu dipantau, dikontrol, dan didampingi secara intens untuk menilai kesesuaian antara proposal dengan kondisi lapangan.

“Jangan nanti ada mark-up baru kepala desa di salahkan. Mana fungsi pengawasan atau kontrol dari instansi terkait. Kalau pengawasannya ketat mana mungkin kepala desa berani melakukan mark-up,”tegas Baharuddin.

Dia menilai, DD yang dikelola setiap desa saat ini belum mampu mensejahterakan warga dan meningkatkan ketahanan ekonomi, karena mayoritas diprioritaskan pada pembangunan fisik seperti, jalan tani, rehab kantor desa, selokan dan sejenisnya. Hal ini membuat pemberdayaan masyarakat sangat minim seperti pemberian modal usaha pada kelompok nelayan dan petani, pelatihan/keterampilan untuk pertukangan, penyediaan bibit dan alat peternakan/perikanan. Bahkan mayoritas desa belum membentuk BUMDes.

“Coba keliling di semua desa se-Kabupaten Buton, adakah peningkatan kesejahteraan dengan adanya Dana Desa? Pemda terutama Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Kabupaten Buton mestinya harus tanggap dengan persoalan ini. Apalah artinya bangunan kantor desa tampak megah karena direhab,sementara banyak warga hidupnya miskin dan untuk makan saja susah,” imbuhnya.

Untuk itu, dia meminta masyarakat agar melaporkan kepada instansi terkait baik kepolisian, kejaksaan, Ormas dan LSM, maupun ke pemerintah pusat jika ada penyalagunaan pengelolaan DD. (man)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker