Buton

Pria 25 Tahun Diduga Cabuli Siswi SD di Buton

PUBLIKSATU.COM, BUTON – Seorang pria berinisial AS (25), warga Desa Laburunci, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Sultra diduga telah menggagahi gadis belia yang masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, Bunga, 14 (nama samaran).

AS menjalankan aksinya di pondok perkebunan keluarga korban di salah satu desa di Kecamatan Pasarwajo, 1 Maret 2019 lalu.

Kapolres Buton, AKBP Andi Herman Sik melalui Kasat Reskrim, Iptu Najamuddin menjelaskan, kejadian itu bermula saat korban meminta pertolongan adiknya mencari korek api untuk menyalakan kompor guna keperluan memasak.

Sang adik menuruti permintaan kakaknya, ia pun bergegas mencari korek api. Tak jauh dari rumah ia lantas bertemu pelaku.

“Adiknya ini pergi cari korek api. Belum jauh dari rumahnya, adik korban bertemu pelaku, sehingga meminjam korek api,” ujar dia saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (20/6/2019).

Usai memakai, korban mengembalikan korek tersebut. Dari itulah pelaku lalu memaksa korban untuk mengikutinya menuju kebun milik neneknya. Kata dia, korban sempat menolak sebelum mengikuti ajakan itu.

“Setelah dikembalikan, pelaku memaksa korban untuk mengikutinya dikebun neneknya. Korban sempat bertanya untuk apa. Namun pelaku mengatakan ikut saja dulu. Sehingga korbanpun mengikutinya,” ujarnya.

Setibanya, pelaku lalu melancarkan aksinya dengan memaksa korban di pondok kebun neneknya. Meski meronta, namun korban tak berdaya. Usai menggagahi, kemudian pelaku menyuruh korban untuk pulang.

Najamuddin menjelaskan kejadian dan pelaporannya memiliki rentang waktu yang cukup lama. Hal ini kata dia, dikarenakan adanya upaya damai dari pihak korban. Namun pihak pelaku  tidak sepakat sehingga pelaporan baru dilakukan di bulan April dan diterima pada bulan Mei kemarin.

“Pihak keluarga korban menempuh jalur kekeluargaan agar pelaku mau bertanggung jawab atas apa yang diperbuat namun palaku menolak. Atas dasar itu keluarga korban baru menempuh jalur hukum dengan melaporkannya pada tanggal 29 April 2019 dan kita baru terima pada 1 mei 2019,”ujarnya.

Atas perbuatannya si pelaku dapat dikenakan pasal 81 ayat (1)atau ayat (2) Jo pasal 76D Subs pasal  82 ayat (1) Jo pasal 76E UU Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Republik Indonesia No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. (Mo1)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker