OpiniRagamWisata

Sepenggal Tanah Maghribi di Paris

--- Umrah Backpaker Plus (8)

Catatan: Irwansyah Amunu

SETELAH beberapa hari menunaikan ibadah umrah, akhirnya jamaah dengan berat hati meninggalkan tanah suci. Diiringi doa semoga bisa kembali ke tanah Haram.

Untuk itu, di bus dalam perjalanan pulang, Mutawif, Ustaz Zulkarnain Nasution Lc mengajarkan doa agar bisa kembali ke Makkah dan Madinah. Dikutip dari Alquran surat Al-Qasas 28, ayat 85, lafalnya: Innallazii farodho ‘alaikal-qur`aana larooodduka ilaa ma’aad, qul robbiii a’lamu man jaaa`a bil-hudaa wa man huwa fii dholaalim mubiin.

Artinya: Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.

Ustaz Zulkarnain mengatakan doa tersebut dibacakan saat tawaf wadak. Tawaf perpisahan kami membacakan doa secara khusyuk, begitupun di bus.

Terbang dari Bandara Jeddah, sekitar pukul 04.00, Minggu (7/4), setelah lima jam menggunakan “kapsul besi” milik Saudi Arabia Airline tiba di Bandara Paris, pagi. Bus yang dikemudikan Goran, pria Kroasia sudah siap menunggu mengantar kami menyusuri Kota Paris.

Mata saya menyapu sepanjang jalan dan bangunan. Kendati dibangun beberapa abad lalu namun tetap kokoh. Dibangun ponakan Napoleon Bonaparte, bergaya Ottoman.

Sayangnya walau memiliki tata kota yang bagus, namun copet dan jambret merajalela disini. Selama perjalanan dua hal itu terus diingatkan Fauzan Siddiqi.

Terbukti saat berada di Menara Eiffel ada turis Korea kecopetan. Copet memang menjadi hantu bagi wisatawan.

Korban pencopetan rata-rata berasal dari Asia. Misalnya China, Korea, dan Indonesia.

Parahnya lagi hanya untuk melaporkan kecurian ke Polisi, antrian sampai enam jam. Bayangkan hanya untuk antri saja melaporkan sampai butuh waktu seperempat hari.

Bagaimana dengan kemungkinan ditemukan? Jangan harap.

Modus operandi pencopet beragam. Ada yang pura-pura minta tolong difoto. Ada yang sekeluarga. Ada yang berkelompok. Pakaiannya pun bermerek. Beda dengan di Indonesia yang dari tampangnya bertato dan sangar langsung ketahuan.

Di Paris pencopetnya tampang artis. Hanya saja yang mencopet bukan warga Prancis. Mereka berasal dari Rumania, Kroasia, dan beberapa Eropa Timur lainnya karena tergolong negara miskin.

Alhamdulillah selama di Paris rombongan tidak mengalami copet. Semua sudah waspada.

Berada di Paris, jamaah menyempatkan salat Zuhur di Grand Mosque. Masjid bercat putih arsitek Maghribi, Maroko tersebut menjadi oase bagi kami di Benua Biru.

Masjid terbesar di Paris ini dibangun di atas tanah hibah yang diberikan Pemerintah Prancis, didanai sejumlah negara, diantaranya Arab Saudi dan Maroko. Diselesaikan selama empat tahun, dimulai pada 1922.

Prancis adalah negara sekuler. Mereka memandang agama adalah urusan pribadi, tak diurus negara. Hal itu merupakan paradigma publik setelah revolusi.

Terbukti azan dikumandangkan di dalam masjid. Suaranya tidak bisa keluar. Pelatarannya terdapat tempat air macur, aneka tanaman dan pepohonan, layaknya Al Hamra.

Mengunjungi masjid ini terdapat sejumlah wisatawan yang berkunjung. Dari potongannya bukan muslim. Dipandu seorang muslimah berkerudung. Dengan membayar dua Euro, mereka dijelaskan tetek bengek soal Islam di pelataran.

Fauzan Siddiqi menyatakan masjid di Paris memang dibuka untuk umum. Membuka paridigma publik soal Islam. Apalagi setelah peristiwa penembakan di New Zealand.

Namun demikian Prancis tidak bisa menolak imigran muslim. Booming setelah tahun 80-an setelah dekolonisasi Prancis. Hingga kini kian pesat.

Alhasil tak salah bila menyebut: Grand Mosque adalah sepenggal tanah Maghribi di Paris.(Follow Instagram: @irwansyahamunu)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker