Baubau

SMAN 1 Baubau Diduga Lakukan Pungli

PUBLIKSATU.COM, BAUBAU – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Koalisi Pemuda Kepulauan Buton (KPK Buton) turun di jalan, Kamis (19/12). Mereka memprotes ada indikasi terjadi pungutan liar (Pungli) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Baubau.

Sebagaimana disampaikan koordinator lapangan (korlap), Mursyt Sikancil. Menurut Mursyt telah terjadi aktivitas pungutan liar oleh pihak sekolah yang dibebankan kepada orang tua siswa dengan dilakukan secara memaksa.

Hal tersebut, kata dia, diketahui disebabkan ada beberapa orang tua siswa mengeluh karena harus dipaksa turut membayar iuran yang telah dipatok nominalnya oleh pihak sekolah.

“Ini merupakan pungutan liar yang dikemas sedemikian rupa dengan berkedok komite. Hal ini diketahui saat beberapa orang tua siswa yang tidak sepakat atas pungutan tersebut,” ujarnya.

“Kini beberapa orang tua siswa tersebut kami rahasiakan identitasnya. Sebab, dikawatirkan ada ancaman terhadap mereka di sekolah,” sambungnya.

Adapun besaran nominal iura yang dibebankan berfariasi, ada 300.000 perorang dan ada juga 150.000.

“Untuk kelas II dan III dibebani sebesar Rp 300 ribu, dan kelas I sebesar Rp 150 ribu. Kalaupun ditotalkan bisa menacapai Rp 300 juta dengan jumlah sebanyak 1.300 siswa,” bebernya.

Sehingga dengan adanya pungutan liar yang dibebankan kepada orang tua siswa telah diduga, baik kepala sekolah maupun pengurus komite dianggap melanggar beberapa aturan yang ada.

“Mulai dari UU No 20 2001 tentang Pungli, Instruksi Presiden No 17 2011 dan Permendikbud No 12 2017 telah ditabrak pihak sekolah,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN1 Baubau, Dra Sartati membantah adanya dugaan pungutan liar yang dialamatkan kepada sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, kalau pungutan liar mestinya tidak diketahui orang banyak. Nah, sementara hal ini diketahui orang tua siswa melalui rapat pengurus komite.

“Nah ini yang lebih tepat sumbangan suka rela dan ini telah disetujui oleh para orang tua murid melalui rapat pengurus komite,” kata Sartati saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.

Berkaitan dengan ini, Sartati menguraikan tahapan pemungutan sejumlah uang ke pada siswa. Mulai dari SMAN 1 mengajukan proposal kepada pengurus komite. Kemudian pihak komite meminta kepada pihak sekolah agar menjelaskan kebutuhan anggaran yang tercantum dalam proposal tersebut. Pihak sekola kemudian menyebutkan satu persatu dalam program tersebut diantaranya program pembuatan pagar.

“Nah melalui pengajuan proposal kepada pihak pengurus komite, maka itu sudah menjadi program komite,” terang Sartati. (p5)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker