Baubau

Tersangka Korupsi TPI Wameo Berpotensi Berjamaah

PUBLIKSATU.COM, BAUBAU – Kejaksaan Negeri (Kejari) Baubau sudah menerima laporan resmi audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulawesi Tenggara terhadap keuangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Wameo Kecamatan Batupoaro. Hasilnya, terdapat kerugian secara tidak wajar sebesar Rp 300 juta lebih.

“Jadi, berdasarkan laporan BPKP yang kami terima Januari 2020, maka ini bukan lagi indikasi, tetapi memang sudah nyata ada kerugian negara di situ sekitar Rp Rp 300 juta ke atas,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Baubau, La Ode Rubiani, dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (9/1).

Menurut dia, pada dasarnya BPKP berpendapat sama dengan pihaknya bahwa kerugian negara pengelolaan TPI Wameo itu dari retribusi ruang pendingin ikan atau cold storage. Pungutan jasa itu diduga digelapkan dengan tidak disetorkan ke kas daerah.

“Misalnya, dia terima Rp 100 ribu, ternyata yang disetor hanya Rp 50 ribu atau bahkan tidak sama sekali. Karena pada bulan-bulan tertentu, ada setoran retribusi dilaporkan nol,” beber mantan Kasi Intel Kejari Gorontalo Utara ini.

Laporan resmi BPKP itu, kata dia, maka pihak sudah mengantongi dua alat bukti yang memuluskan penyidikan kasus dugaan korupsi retribusi TPI Wameo. Sehingga, pihaknya siap menetapkan daftar orang bertanggung jawab.

“Kita masih menunggu waktu dari Kepala Kejari untuk mengekspose calon tersangka. Sebenarnya dari beberapa fakta yang kita temukan siapa yang paling bertanggung jawab ini, maka yang namanya tersangka itu (pasti) ada,” imbuhnya.

Menurut Rubiani, pada prinsipnya dalam tindak pidana korupsi itu selalu melibatkan lebih dari satu orang atau bahkan berjamaah. Hanya itu sangat tergantung keterbukaan dari orang yang ditetapkan tersangka nanti.

“TPI ini kan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kelautan dan Perikanan Baubau, maka kita harus melihat, apakah ada benang merah dengan pola kebijakan. Disitu jelas pengelolaan TPI ini tunduk pada Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 10 tahun 2013,” urainya.

“Sampai hari ini kita belum menyebut siapa yang akan ditetapkan jadi tersangka itu, tapi secara berkas memang sudah lengkap. Cuma mesulitan kami hanya sebagian pengguna jasa TPI ini tidak tahu berbahasa Indonesia, sulit dimintai keterangan,” pungkasnya. (exa)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker