BaubauRagamWisata

Umrah Backpaker Plus (19), Labirin Cokelat di Grand Place Belgia

Catatan: Irwansyah Amunu

GRAND Place adalah destinasi wajib bagi wisatawan yang telah menginjakkan kaki di Belgia. Sejarah, souvernir, dan cokelat merupakan daya tarik pengunjung ke sana.

Setelah berjalan kaki 50 Meter lebih kita sudah berada di pusat Grand Place. Terdapat bangunan megah menjulang beberapa lantai.

Gaya arsitekturnya klasik. Untuk mengadaptasi perkembangan zaman, reliefnya dihiasi dengan sentuhan emas.

GRAND PLACE: Rombongan Umrah Backpaker di areal Grand Place, Belgia. (IST)

Pelatarannya terbuat dari paving blok. Saya perhatikan usianya juga sudah tua.

Melihat Grand Place Belgia, nampaknya tidak lagi digunakan untuk pusat pemerintahan. Tanda-tanda aktivitas tak terlihat.

Biasanya dijaga, di Grand Place tak ditemukan aparat. Hanya wisatawan saja yang ramai.

Pengunjung umumnya diramaikan wajah Asia. Dari romannya didominasi India, Melayu, dan bermata sipit.

Memasuki kawasan Grand Place, Fauzan Siddiqi, Tour Leader mewanti-wanti bahaya copet. Sama dengan ketika berada di Paris, warning terus diulang agar kami waspada.

MELAYU: Irwansyah Amunu berada di gerai cokelat di Belgia bersama bendera Merah Putih dan patung memakai pakaian adat khas Melayu (IST)

Amatan saya, bukan hanya copet, kawasan tersebut juga banyak dipenuhi pengemis. Inilah yang membuat situasi kurang nyaman.

Namun demikian, tampaknya pengunjung mengabaikan hal tersebut. Terbukti, tiba disini, mereka langsung berfoto dan mengambil video berlatar gedung megah.

Penulusuran saya di google, Grand Place merupakan pusat (alun-alun) keramaian di Brussels Belgia. Lokasi Grand Place dikeliling bangunan-bangunan kuno antik seperti Guildhalls, Town Hall, dan Breadhouse. Kawasan ini seluar ukuran 68 meter dengan 110 meter, Grand Place juga merupakan tempat UNESCO dulunya.

Setiap dua tahun sekali pada bulan Agustus, sebuah “karpet bunga” besar tertata di Grand Place selama beberapa hari. Berjuta warna dari bunga-bunga mengiasi Grand Place. Karpet bunga pertama dilakukan pada 1971, dan karena popularitasnya, tradisi dilanjutkan, karena adanya karpet bunga menarik sejumlah besar wisatawan. Sayangnya sewaktu saya datang kesini, masih bulan April, acara karpet bunga belum digelar.

Di lokasi terdapat banyak rumah makan aneka khas dan kafe-kafe. Tidak perlu kawatir bagi yang ingin makan bukan makanan Eropa, disana juga cukup bisa ditemukan rumah makan yang menyajikan masakan Chinese.

Gerai merchandise juga banyak. Wisatawan dengan mudah membeli buah tangan untuk oleh-oleh.

Manneken Pis juga dekat dengan Grand Place, jaraknya hanya beberapa puluh meter saja. Cukup dengan berjalan kaki maka sampai ketempat legenda Manneken Pis.

Manneken Pis (dikenal dalam bahasa Prancis sebagai le Petit Julien). Merupakan patung air mancur kecil perunggu yang menggambarkan seorang anak kecil telanjang kencing ke dalam baskom air mancur. Patung ini dirancang Hieronymus Duquesnoy pada 1618 hingga 1619.

Beberapa pengunjung saya lihat mengambil foto dengan patung air mancur tersebut. Itulah salah satu ikon Belgia yang dicari pengunjung.

Hanya saja, kedatangan saya ke sini ingin mencari cokelat. Berdasarkan informasi saya peroleh Belgia adalah negara asal cokelat pertama di dunia.

Rupanya pikiran itu bukan hanya ada di kepala saya. Terbukti ketika kami berada di gerai toko penjual cokelat, bisa dikatakan hampir semua rekan saya serombongan beli cokelat khas Belgia.

BORONG: Sejumlah rombongan Umrah Backpaker sedang membayar cokelat yang dibeli di kasir. (IST)

Penjaga gerainya rupanya mahir menarik hati pembeli. Begitu tahu kami dari Indonesia, kontan dia berdialog menggunakan Bahasa Indonesia beberapa patah kata.

Bukan itu saja, entah pengunjungnya banyak dari Indonesia, di gerainya ada bendera Merah Putih lengkap dengan patung anak kecil mengenakan pakaian adat Melayu.

Di gerai ini, istri saya membeli beberapa potong cokelat. Sayangnya ketika berada di tanah air cokelatnya tidak terbawa. Tertinggal di hotel di Paris.

Amatan saya, gerai cokelat bukan hanya satu. Tersebar disejumlah tempat di kawasan Grand Place seolah membentuk labirin. Kalau tidak cermat, bisa tersesat saking banyaknya lorong.(Follow Instagram: @irwansyahamunu)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker