Baubau

Umroh Backpaker Plus (1) “Tak Pakai Seragam?”

Catatan: Irwansyah Amunu

SEBENARNYA berat juga memulai tulisan ini. Jangan sampai pahala ibadah berkurang karena dinilai riya. Hehehe. Namun karena saya jurnalis, hakekatnya: Setiap Helaan Nafas adalah Berita.

Sebagai umat Islam, saya kembalikan pada hadits nabi riwayat Bukhari dan Muslim: Innamal A’malu Binniyat. Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Maka saya luruskan niat, menulis kisah umroh backpacker sebagai bagian dari ibadah.

Selama ini, umroh backpacker sering terdengar. Namun sedikit yang mencobanya karena tak ingin beresiko. Apalagi dengan banyaknya travel umroh yang gagal memberangkatkan jamaah. Maka pilihan biasanya dijatuhkan pada travel umroh yang jelas.

Apa namanya? Siapa pengurusnya? Dimana alamatnya? Semua harus jelas. Agar resiko batal berangkat, apalagi hingga uang hangus tidak terjadi. Bahkan kendati harus bayar lebih mahal pun rela dilakukan.

Nah, keikutsertaan saya umroh backpacker pun karena dorongan istri tercinta. Semuanya berawal dari pembelian tiket penerbangan dari Singapura menuju Jeddah, akhir tahun lalu.

Kebetulan istri tergabung dalam WhatsApp Grup (WAG) Umroh Hemat & Wisata Halal, adminnya: Fauzan Siddiqi. Ditawarkan masih ada sejumlah kursi kosong untuk umroh backpacker. Disetorkanlah sejumlah uang untuk pembelian dua tiket, atas nama Irwansyah Amunu dan Esih Sukaesih.

Dari sini cerita dimulai.

Setelah itu istri menanyakan bagaimana kelanjutan umroh backpacker. Saya tidak terlalu merespon. Apalagi dana saya masih seret. Banyak kegiatan yang belum dicairkan anggarannya.

Namun karena penasaran, setiap kali istri menanyakan ihwal melanjutkan umroh backpacker satu kata jawaban saya: #kun.

Yakin saja. Insya Allah ada jalan.

Istri memilih realistis. Sementara saya pilih ideologis.

Alhamdulillah setelah waktu berjalan. Semua kesulitan menemukan jawabannya sendiri. Setiap ada soal selalu ada jalan. Kendati harus menebalkan rasa sabar karena solusi biasanya datang terakhir dari arah yang tidak disangka-sangka. Disinilah pentingnya menghujamkan iman agar melihat menggunakan kacamata keyakinan.

Kembali ke umroh backpacker. Banyak hal menarik dalam pengurusannya hingga bisa berangkat. Modal lain yang mesti dimiliki pesertanya adalah challenge atau tantangan. Berikutnya millenial. Sejauh ini saya lihat pesertanya rata-rata milenial atau berusia di bawah 35 tahun.

Bukan berarti yang non milenial tidak boleh. Kalau pun bukan setidaknya berjiwa milenial. Hehehe.

Yang menarik lainnya, biaya lebih murah. Berikutnya pembayaran bertahap. Dibayarkan sesuai kebutuhan dan permintaan. Misalnya tiket dibayarkan lebih dulu. Menyusul biaya Land Arrangement (LA), misalnya akomodasi, konsumsi, dan seterusnya selama di tanah suci.

Sudah begitu semuanya transparan dan jelas. Jadi peserta juga bisa mengetahui berapa biaya setiap item kegiatan. Satu kata untuk melukiskan: murah.

Menariknya lagi, standarisasi misalnya dalam bentuk seragam atau koper tidak disiapkan. Peserta hanya diarahkan untuk membawa koper miliknya masing-masing namun dengan ukuran yang disyaratkan agar mudah. Variabel ini tentu menekan harga.

Jumat (29/3) di Bandara Soekarno Hatta saat saya dan istri bertemu Tour Leader (TL) Umroh, Wa Ode Hardiana kita diberikan kaos, ID Card, dan tas ransel kecil. Kebetulan TL adalah kolega istri.

Setelah paspor dan tiket diserahkan, kita menuju ke loket pemeriksaan imigrasi. Disini petugas loket bertanya ihwal keberangkatan,”Tak pakai Seragam?”

“Umroh backpacker,” jawabku seraya berlalu.

Lazimnya umroh mengenakan seragam sama. Misalnya batik dengan corak seragam. Seperti di Bandara Betoambari Baubau, sebelum bertolak ke Jakarta, Kamis (28/3) saya bertemu rombongan umroh yang baru pulang dari tanah suci. Pakaiannya seragam. Begitupun di Bandara Soekarno Hatta sejumlah kelompok terlihat mengenakan batik sama. Dari seragamnya sudah bisa ditebak, mereka adalah jamaah umroh.(Follow Instagram: @irwansyahamunu)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker