Sultra

Usai Jalani Sidang Militer, Pelaku Pedofil di Kendari Diserahkan ke Polisi

PUBLIKSATU.COM, KENDARI – Dalam konferensi pers yang digelar di Markas Korem 143/HO, Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XIV/Hasanuddin Makassar, Mayor Jenderal Surawahadi mengatakan tersangka (Adrianus) diserahkan kepada Polres Kendari untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Saya sengaja pada siang hari ini untuk memberikan jawaban serta penjelasan, dimana saya yang memerintahkan untuk menangkap Adrianus yang telah melakukan perbuatan tindak pidana pencabulan. Setelah mendengar perilaku yang dilakukan Adrianus terhadap enam orang anak, maka saya memerintahkan kepada seluruh personil TNI untuk memangkap pelaku hidup atau mati,” tegasnya.

Karena katanya, sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) pihaknya sangat peduli terhadap masyarakat, apalagi anak-anak di mana harus dilindungi masa depannya jangan sampai dirusak.

“Pada hari ini kurang lebih Pukul 15.00 mantan tentara, yakni Adrianus akan diterbangkan dari Makassar ke Kota Kendari setelah sebelumnya mengikuti Pengadilan Militer di sana. Nantinya setelah tiba di Kendari, Adrianus akan dibawa Polres di mana aksi kejadiannya,” bebernya.

Oleh karena itu, pihaknya memberikan keyakinan kepada masyarakat, bahwa tugas TNI yaitu melindungi dan tidak melindungi kejahatan. Karena kejahatan adalah tetap kejahatan dan harus dihilangkan serta dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

“Jadi saya sangat bersyukur, pelaku tersebut bisa ditangkap dan harus diproses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Serta pelaku akan diberikan dengan hukuman yang seberat-beratnya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan,” pungkasnya.

Sementara itu Komandan Denpom XIV/3 Kendari, Mayor CPM Erik Alamsyah Sinaga mengatakan, pertama Adrianus bertugas di Yonif 725 Woroagi dan pada tanggal 18 Agustus 2018 meninggalkan satuan atau melarikan diri dari satuan atau tidak masuk kantor.

“Kalau tentara satu minggu tidak masuk kantor, itu pidana. Dan selama satu bulan tidak masuk dikatakan disersi atau tidak masuk 30 hari dan kasusnya diserahkan ke polisi militer dalam hal ini DanPom yang menangani,” imbuhnya.

Sehingga, kata dia, pada September 2018, kasus Adrianus ini dilimpahkan kepada Danpom Kendari, selanjutnya karena proses selama satu bulan kembali dilimpahkan ke pengadilan militer yang ada di Makassar.

“Makassar nanti yang putuskan selama proses dan pada tanggal 9 April 2019 keluar putusan, Adrianus dipecat dari dinas militer dan bukan tanggal 29 April,” jelasnya.

Kemudian ada yang namanya Dasar Hukum Tetap (DHT) selang waktu satu minggu berkekuatan hukum tetap. DHT tersebut tertanggal 17 April 2019 dan dianggap sudah menerima putusan tersebut. Sehingga dikeluarkan perintah untuk eksekusi, namun tersangka (Adrianus) tidak ada, maka dilakukan peradilan tanpa kehadiran tersangka.

“Karena orangnya tidak ada, dan ditemukan kemarin walaupun kewajiban hukum sudah dipecat, namun ada masalah DPO sebelumnya, akhirnya kembali mengajukan kepada pengadilan militer untuk dibacakan putusannya, sehingga Adrianus pelaku pencabulan harus dibawa di Pengadilan Militer Makassar,” bebernya.

Artinya tambah Alamsyah, Pelaku pencabulan Adrianus ini bukan lagi sebagai militer yang sudah diputuskan di mahkamah militer yang sudah dilakukan pemecatan. Setelah sidang Militer hari ini, Adrianus diserahkan kepada Polres Kendari melalui Polda Sultra untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (m1)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker