Baubau

Viral, Tarian Erotis Siswa SMK di Baubau Menuai Kritik

PUBLIKSATU.COM, KENDARI – Acara perpisahan kelas XII SMK Negeri 1 Baubau beberapa waktu lalu menuai kritik setelah beredarnya video di media sosial yang menampilkan sesi tarian erotis.

Tokoh masyarakat, La Ode Rauda Manarfa memberikan komentar mengenai video viral tersebut. Ia menceritakan pada 23 April 2019 dalam sebuah acara di SMKN 1 Baubau (SMEA) ditampilkan sesi tari erotis yang diperankan oleh seseorang yang berpakaian siswa.

“Karena menurut adat dan istiadat yang berlaku umum di Sulawesi Tenggara, bahwa tarian ini adalah masih sangat tabu dan menampilkan gerakan yang kurang elok untuk dilihat. Selain itu pula, adanya penampilan tarian menyimpang ini dapat membuat siswa-siswa lainnya terpapar bahaya penyakit LGBT,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Pelaksana Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Drs Asrun Lio mengatakan, harusnya pihak sekolah lebih memperhatikan semua peserta didiknya dengan memberikan pendidikan moral dan etika dalam berpenampilan serta memperlihatkan yang baik.

“Ini adalah peran guru seni dan pihak sekolah, dalam memberikan pengajaran serta memberikan sesuatu yang baik untuk siswa-siswinya. Karena kebaikan serta pembentukan karakter siswa-siswi dibentuk dari sekolah sebelum siswa dan Ssswi keluar dari lingkungan sekolah,” kata Asrun Lio.

Menurutnya tarian dalam video viral tersebut adalah sejenis dance modern tapi kekurangannya tidak menggunakan pakem tertentu, tidak ada tatanan yang dibentuk dalam gerak tari.

“Seharusnya guru seni dapat mengarahkan potensi dan bakat seni dalam mandidik siswa-siswinya agar gerakan tari dance modern ini dapat lebih bermakna serta ini adalah tugas dari guru seni di sekolah dalam membentuk potensi siswa-siswinya,” ringkasnya.

Di tempat yang berbeda Kepala SMKN 2 Baubau La Haris menanggapi hal tersebut. Ia mengaku tarian yang diperagakan tidak ada dalam agenda acara perpisahan.

“Video yang viral kemarin itu terjadi spontanitas yang tidak ada dalam agenda kegiatan dan kejadian itu terjadi pada saat acara telah selesai, itu sudah masuk di acara bebas dan waktu itu saya sedang bercerita dengan ketua komite tiba-tiba saya mendengar suara teriakan anak-anak padahal mereka teriakan yang menari di panggung dan langsung saya stopkan acara itu karena saya lihat itu sudah tidak mendidik,” kata La Haris saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/5/19).

“Dan untuk kegiatan yang ada dalam susunan acara itu pakaiannya khusus seperti kemarin ada tarian budaya, ada pencak silat, paduan suara dan lain-lain, mereka punya pakaian khusus sedangkan yang menari itu pakaian sekolah yang memang tidak ada dalam susunan acara,” tambahnya.

Olehnya itu untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak sekolah akan menyeleksi setiap kegiatan yang akan ditampilkan.

“untuk kedepannya kami mengantisipasi agar hal ini tidak terjadi yah setiap kegiatan yang akan di tampilkan haris di laporkan agar diseleksi mana yang layak dan tidak layak. Sebenarnya hal tersebut sudah dilakukan dari tahun-tahun sebelumnya setiap kegiatan diseleksi agar dilihat mana yang layak dan tidak layak karena satu hari sebelum acara itu selalu diadakan gladi agar bisa ditahu durasi waktunya dan jenis kegiatannya,” tutupnya. (m1/po1)

Topik

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblok Terdeteksi

Please consider supporting us by disabling your ad blocker